nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswa IPB Teliti Bisnis Abon Ikan Lele di Boyolali

Rizqa Leony Putri , Jurnalis · Rabu 06 November 2019 19:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 06 65 2126608 mahasiswa-ipb-teliti-bisnis-abon-ikan-lele-di-boyolali-f4Dr2zPRuV.jpeg Bisnis Abon Ikan Lele di Boyolali. (Foto: Okezone.com/Dok. IPB)

JAKARTA- Mahasiswa IPB dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Mukhamad Khirzan Adil Wafi melakukan penelitian tentang penggunaan ikan lele yang tidak memenuhi syarat untuk diolah menjadi abon di Boyolali.

Ikan lele ukuran besar biasanya tidak memenuhi syarat untuk disortir dan memiliki nilai jual rendah. Oleh karena itu, warga Boyolali menjadikan lele besar ini menjadi abon. Abon ikan lele ini sudah menjadi salah satu oleh-oleh dan ikon kota Boyolali.

Baca Juga: Rektor IPB Berpantun Soal Turbulensi Pesawat Saat Wisuda

Dalam penelitiannya, Adil membandingkan nilai bisnis pengolahan abon lele dari penggunaan teknologi tinggi dan bisnis pengelolaan abon dengan teknologi rendah. Bisnis pengolahan teknologi tinggi memiliki rasio nilai tambah 58,12%, sedangkan bisnis pengolahan teknologi rendah memiliki rasio nilai tambah 21,39%.

 Peternak Ikan Lele di Pyongyang

"Bisnis pengolahan teknologi tinggi memiliki rasio nilai tambah 58,12%, sedangkan bisnis pengolahan teknologi rendah memiliki rasio nilai tambah 21,39$. Teknologi memengaruhi efektivitas produksi dan meningkatkan nilai jual ikan parut," jelasnya, seperti dilansir dari situs resmi Institut Pertanian Bogor (IPB), Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Masing-masing UMKM memiliki sendiri cara dan teknologi dalam pengolahan sehingga output yang dibuat juga akan berbeda antara UMKM satu dengan yang lainnya. Output yang berbeda ini akan menghasilkan nilai tambah dan profitabilitas bisnis yang berbeda dari setiap UMKM.

Baca Juga: IPB Borong Banyak Penghargaan Selama Oktober

Menurutnya, bisnis pengolahan dengan teknologi rendah hanya mampu menghasilkan paling banyak 80 kilogram ikan lele dalam satu produksi. Berbeda dengan bisnis pengolahan berteknologi tinggi yang mampu menghasilkan sebanyak 150 kilogram dalam satu produksi.

Tak hanya itu, bisnis pegolahan dengan teknologi rendah akan menghasilkan output yang lebih rendah daripada bisnis pengolahan dengan teknologi tinggi. Hal ini karena pencampuran kurang stabil akibat dilakukan secara manual, sehingga rasa dan warnanya berbeda dari output bisnis pengolahan berteknologi tinggi.

Adil menambahkan, Bisnis pemrosesan berteknologi rendah membutuhkan lebih banyak tenaga kerja daripada bisnis pemrosesan berteknologi tinggi. Dalam satu produksi dengan jumlah pekerja yang sama, yaitu sebanyak lima orang.

Sebuah bisnis pengolahan dengan teknologi rendah hanya dapat memproses maksimal 75 kilogram ikan lele dan membutuhkan tiga kompor gas. Sementara bisnis pengolahan berteknologi tinggi hanya membutuhkan satu mesin untuk mengolah 150 kilogram ikan lele.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini