nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Baterai Motor Listrik dari Sisa Bahan Garam Karya ITS, Harganya?

Hairunnisa, Jurnalis · Kamis 07 November 2019 15:46 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 07 65 2126951 baterai-motor-listrik-dari-sisa-bahan-garam-karya-its-harganya-wAgeVEssQN.jpg Motor Listrik Gesits. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, mendorong produksi baterai lithium yang tidak hanya dibuat dari bahan baku nikel. Tapi bisa terbuat dari mineral lain dari garam.

Baterai lithium ini diperkirakan akan banyak diperlukan di Indonesia untuk industri kendaraan listrik seperti motor listrik Gesits dan mobil listrik.

Baca Juga: Aksi 40 Detik Imbau Masyarakat Lebih Peka Kesehatan Mental

"Motor listrik itu perlu baterai. Baterainya itu sekarang lithium dan kabar baiknya adalah baterai lithium itu bisa dibuat di Indonesia, karena memang ada komponennya," ungkap Bambang, dalam keterangannya, Kamis (7/11/2019).

Terkait produksi baterai lithium dengan bahan baku nikel, saat ini pemerintah sudah mengizinkan pendirian pabrik baterai PT QMB New Energy Materials di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah. Pabrik hasil kerja sama Indonesia, Jepang, dan China ini akan mengolah nikel menjadi baterai yang siap dipakai oleh berbagai jenis kendaraan listrik.

Motots Gesits

"Komponen pertama yang bisa jadi baterai lithium, yang memang sudah siap secara teknologi itu dari unsur nikel. Di Morowali sudah dibangun pabrik baterai lithium. Mudah-mudahan bisa menjadi tulang punggung dari baterai lithium untuk motor listrik atau mobil listrik kita di masa depan," harap Bambang Brodjonegoro.

Baca Juga: Kuliah Sambil Bisnis Travel, Alvan Raih Omzet Ratusan Juta

Menristek/Kepala BRIN mengaku optimistis Indonesia dapat memproduksi baterai lithium dari nikel, namun ada satu inovasi pembuatan baterai lithium yang sudah dikembangkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Inovasi ini dapat memproduksi baterai lithium secara lebih terjangkau.

"Yang menarik dari ITS, mereka bisa mengembangkan baterai lithium dari "sisanya garam". Jadi garam di Madura setelah unsurnya diambil menjadi garam (konsumsi). Sisanya bisa jadi baterai lithium," ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Menteri Bambang mendukung pengembangan oleh ITS karena produksi baterai lithium dari garam ini menggunakan bahan dari proses produksi garam yang selama ini dibuang.

"Tidak ada waste (sisa produksi), tapi di satu sisi ini bisa mendorong energi terbarukan. Karena nanti kalau (Indonesia) sudah menuju listrik dan listriknya digerakkan dengan energi terbarukan, akhirnya kita tidak usah khawatir dengan harga baterai yang saat ini dikeluhkan sangat mahal," ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Turut hadir dalam kesempatan ini Menteri Pertambangan dan Energi Periode 1978 - 1988 sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Soebroto selaku tokoh yang sangat dihormati alumni SMA Pangudi Luhur.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini