nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kilas Balik 73 Tahun Lalu, Perundingan Linggarjati yang Tuai Pro-Kontra

Rizqa Leony Putri , Jurnalis · Selasa 12 November 2019 16:35 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 12 65 2128904 kilas-balik-73-tahun-lalu-perundingan-linggarjati-yang-tuai-pro-kontra-0T5F7G10MP.jpg Arsip Perundingan Linggarjati (Foto: Twitter)

JAKARTA - Indonesia pernah melakukan perundingan dengan Belanda yang digelar di Linggarjati, Jawa Barat. Dalam peristiwa yang dikenal dengan perundingan Linggarjati itu lahirlah persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia.

Perundingan bersejarah ini dimulai pada 11 November 1946. Hasil Perundingan Linggarjati ditandatangani di Istana Merdeka, Jakarta pada 15 November 1946 dan ditandatangain secara sah oleh kedua negara pada 25 Maret 1947.

Baca Juga: Pakai Alat Canggih Ini Truk Overload Tak Bisa Masuk Tol

Peristiwa yang sangat penting dan berdampak bagi status kemerdekaan Indonesia ini tak bisa dilupakan. Oleh karena itu, Arsip Nasional kembali mengingatkan kita tentang perundingan bersejarah ini.

"#ArsipHariIni menampilkan Arsip Foto Sebuah gedung yg terletak di Linggarjati Kab. Kuningan tempat dilaksanakannya Perundingan Linggarjati antara RI dgn Pemerintah Belanda Pasca kemerdekaan," tulis Arsip Nasional RI seperti dikutip dari akun resmi Twitter-nya, Jakarta, Selasa (12/11/2019).

arsip

Mengutip berita Okezone sebelumnya, perjanjian Linggarjati menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Indonesia, contohnya beberapa partai seperti Partai Masyumi, PNI, Partai Rakyat Indonesia, dan Partai Rakyat Jelata.

Partai-partai tersebut menyatakan bahwa perjanjian itu adalah bukti lemahnya pemerintahan Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan negara Indonesia. Tak hanya itu, Arsip Nasional pun mengunggah foto para delegasi Indonesia dan Belanda. Momen tersebut diambil tepat sebelum perundingan dilakukan.

"Sebelum Perundingan delegasi RI & delegasi Belanda berfoto bersama. Tampak (a). Dr. J. Leimena, (b). Van Mook, (c). Amir Sjarifudin (d). Prof. Schermerhorn (e). Susanto Tirtoprodjo (f) M.V. Poll (g). F. De Boer (h). PM. Sutan Sjahrir (i). Ali Boediardjo," jelas Arsip Nasional.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini