nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Temuan Teknologi Radar Pasif Ini Bisa Deteksi Kapal Asing Ilegal

Hairunnisa, Jurnalis · Rabu 13 November 2019 17:55 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 13 65 2129455 temuan-teknologi-radar-pasif-ini-bisa-deteksi-kapal-asing-ilegal-pImuQzD4XR.jpeg Teknologi Radar (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Kelompok Keahlian (KK) Teknik Telekomunikasi di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (STEI ITB) berhasil menciptakan teknologi radar pasif. Teknologi ini bisa mendeteksi adanya pesawat asing yang melewati batas negara secara ilegal.

Sehubungan dengan hal tersebut, desain radar dibuat dengan konsep transportable sehingga bisa dibawa sampai ke wilayah terpencil tanpa perlu tambahan mobil pengangkut. Saat ini sistem yang diciptakan bekerjasama dengan PT. LAPI ITB dan Balitbang Kementerian Pertahanan RI tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum dikomersialkan.

Baca Juga: Misael Natanael, Wisudawan dengan IPK 3,99 Tertinggi di ITB

Namun akan diuji coba bersama dengan Komando Pertahanan Udara Nasional. Radar tersebut merupakan singkatan dari Radio Detection and Ranging yang dibagi menjadi dua jenis, yaitu radar aktif dan radar pasif. Perbedaan dari kedua radar tersebut terletak pada cara mendeteksi target, di mana radar aktif dapat memancarkan sinyal sendiri sedangkan radar pasif hanya berperan sebagai receiver atau penerima sinyal.

Waktu yang dibutuhkan untuk membuat sistem radar pendeteksi pesawat seperti ini tentu saja tidak singkat. Salah satu perwakilan dari tim pengembangan teknologi radar Ahmad Izzuddin menjelaskan, proses pembuatan sistem ini dimulai sejak tahun 2017 sampai 2020.

kapal

Rencananya di akhir tahun 2019 akan ada demo fungsi sistem radar pasif yang telah dikembangkan. Total waktu selama empat tahun tersebut digunakan untuk pengujian sistem dan apabila telah berjalan dengan sempurna, maka di tahun 2020 radar tersebut sudah bisa digunakan.

“Kesulitannya mungkin ada pada beberapa perangkat COTS yang harus dibeli dari luar negeri karena belum tersedia di Indonesia. Kemudian perangkat tersebut masih harus dikembangkan lagi di ITB karena apabila membeli langsung yang siap digunakan harganya sangat mahal,” ujar Izzudin yang merupakan dosen di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB itu.

kapal

Di sisi lain, ia menambahkan, ada bagian yang bisa tim kembangkan sendiri misalnya antena. Tim dalam proses pembuatan radar pasif tidak langsung membeli antena, namun tentunya memerlukan tahapan desain dan tes untuk menguji kemampuannya. “Mungkin itu salah satu faktor kenapa waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem ini cukup lama,” ujarnya.

Kendati demikian, hal tersebut menurut Izzuddin justru harus menjadi pemacu mahasiswa untuk terus berkarya. “Menurut saya justru dengan melihat keadaan seperti ini seharusnya dapat memicu mahasiswa dan akademisi di Indonesia untuk terus berkarya hingga akhirnya tidak perlu membeli perangkat dari luar negeri. Semua perangkat bisa didapatkan di Indonesia dan asli buatan Indonesia,” tutup Izzuddin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini