Hasil Penelitian, Lempung Aktif Alofan Bisa Atasi Pencemaran Air

Hairunnisa, Okezone · Jum'at 15 November 2019 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 15 65 2130461 hasil-penelitian-lempung-aktif-alofan-bisa-atasi-pencemaran-air-EDuKt4TtUi.jpg Kampus UNS. (Foto: Okezone.com)

Lalu Prof. Dr. Munawir Yusuf akan menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar dengan judul “Pendidikan Inklusif : Paradigma Baru Pendidikan bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus dan Implikasinya terhadap Manajemen Sekolah”.

Prof. Munawir mengatakan, International Labour Organization (ILO), pada tahun 2017 merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa jumlah penyandang disabilitas di dunia diperkirakan mencapai sekitar 15% dari populasi. Dari jumlah ini, antara 110 juta sampai dengan 190 juta orang dewasa mengalami kesulitan fungsional, dan sekitar 93 juta anak atau satu dari 20 di antaranya di bawah usia 15 tahun hidup dengan kondisi disabilitas.

Jumlah orang yang mengalami disabilitas akan terus bertambah seiring perubahan jumlah penduduk dan bertambahnya usia. Pola disabilitas nasional dipengaruhi oleh trend kondisi kesehatan, ekologi, gaya hidup dan faktor lainnya, seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh, tindak kekerasan, bencana alam dan konflik, makanan yang tidak sehat, dan penyalahgunaan zat.

“Anak-anak dari rumah tangga miskin dan kelompok minoritas juga berisiko tinggi mengalami disabilitas. Perempuan dan anak dengan kondisi disabilitas cenderung mengalami "diskriminasi ganda", kekerasan berbasis gender, penganiayaan dan marginalisasi,” ujarnya.

Di Indonesia, menurut Pusdatin Kementerian Kesehatan, jumlah penyandang disabilitas saat ini mencapai 11,580,117 orang, di antaranya 3,474,035 (penyandang disabiltais penglihatan), 3,010,830 (penyandang disabilitas fisik), 2,547,626 (penyandang disabilitas pendengaran), 1,389,614 (penyandang disabiltias mental) dan 1,158,012 (penyandang disabilitas kronis). WHO menyebutkan di Indonesia terdapat sekitar 24 juta orang yang tergolong disabilitas, termasuk orangtua, disabilitas mental dan intelektual.

Dari jumlah tersebut menurut Badan Pusat Statistik, baru 40% Penyandang Disabilitas usia sekolah yang bersekolah dan 60% sisanya belum mendapat layanan pendidikan yang optimal. Analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi angka partisipasi pendidikan bagi Penyandang Disabilitas di Indonesia yang masih rendah, antara lain disebabkan (1) faktor geografis jarak tempat tinggal anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan sekolah luar biasa (SLB), (2) kesadaranan masyarakat terhadap pendidikan yang berperspektif disabilitas masih rendah, (3) persepsi masyarakat bahwa sekolah bagi penyandang disabilitas hanya di SLB, dan (4) masih banyak sekolah regular yang belum bersedia menerima siswa dari penyandang disabilitas.

"Jika sistem layanan pendidikan bagi anak dengan kebutuhan khusus hanya bertumpu pada pendekatan konvensional dengan mengandalkan ketersediaan SLB, maka dapat dipastikan bahwa akan semakin banyak anak dengan kebutuhan khusus yang tidak mendapatkan layanan pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu perlu dicari cara agar hak pendidikan bagi semua anak (termasuk anak dengan kebutuhan khusus) dapat dipenuhi sesuai dengan tuntutan perundang-undangan," ujar Prof. Munawir.

Kemudian Prof. Dr. Eng. Syamsul Hadi akan menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul 'Energi Terbarukan untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan'. Energi merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan. Kebutuhan akan ketersediaan energi tersebut akan terus meningkat seiring dengan perkembangan zaman yang terjadi.

Energi yang bersumber dari fosil (non-renewable energy) masih menjadi kebutuhan utama di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia yang menjadikan energi bersumber fosil (non-renewable energy) sebagai sumber energi utama kebutuhan nasional (ESDM, 2019).

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini