nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Deretan Penelitian Ilmiah Mahasiswa, Salah Satunya Ampas Kopi Cegah Osteopororis!

Hairunnisa, Jurnalis · Sabtu 16 November 2019 06:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 15 65 2130472 deretan-penelitian-ilmiah-mahasiswa-salah-satunya-ampas-kopi-cegah-osteopororis-aOMaogGq5B.jpg Kopi (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA – Para Mahasiswa Indonesia telah membuat berbagai inovasi yang mengesankan dan pasti bermanfaat. Hal ini mereka lakukan seiring dengan kemajuan teknologi yang telah ada. Salah satunya adalah penemuan mengenai hal-hal yang berbau ilmiah.

Penemuan ini mereka lakukan hanya sekadar sebagai alat bantu di masyarakat atau hanya sebagai informasi. Berikut ini beberapa inovasi ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa seperti dirangkum Okezone:

1. Atasi Problem Mata dengan Ekstrak Wortel

Kekurangan vitamin A (KVA) merupakan salah satu masalah yang dihadapi Indonesia. KVA menjadi faktor utama penyakit mata, mulai dari rabun hingga kebutaan. Mahasiswa FMIPA UGM yang bernama Diah Ayu Puspitasari dan Nurlaili Rahmawati membuat suatu produk yang menjawab permasalahan ini.

Baca Juga: 7.000 Jurnal Ditarget Terakreditasi dalam 2 Tahun

Wortel dipilih karena mengandung beta-karoten. Beta-karoten merupakan bentuk pro-vitamin A paling aktif yang dapat diubah menjadi vitamin A. “Berdasarkan uji yang dilakukan, suplemen nanoemulsi ekstrak wortel ini berpotensi sebagai sumber pro-vitamin A untuk mencegah terjadinya KVA," ujar Nindya Kirana Putri yang dilansir dari web UGM, Senin (11/11/2019).

2. Ampas Kopi Bisa Menghambat Osteoporosis

Mahasiswa UGM yang tergabung dalam Kelompok PKM-PE dari Fakultas Farmasi UGM mencoba meneliti bahan alami seperti anti-osteoklastogenesis untuk menghambat terjadinya osteoporosis. Mereka adalah Marina Elsaida Harianja, Mila Hanifa, dan Ahmad Naufal yang mencoba meneliti ampas kopi (Coffea arabica L.) yang mengandung senyawa dan efek farmakologi untuk menghambat differensial osteoklas.

Kopi

Ampas kopi yang mengandung asam klorogenat berpotensi dikembangkan untuk mencegah osteoklastogenesis yang berimplikasi pada penghambatan osteoporosis. Kualitas bahan ini menjadi tolak ukur pembuatan sampel ampas kopi Arabica sehingga dapat mengambil senyawa asam klorogenat.

“Asam klorogenat ini diketahui mampu menghambat differensiasi osteoklas yang dimediasi oleh Receptor Activator of Nuclear Kappa-B ligand (RANKL)," ujar Ketua Tim PKM-PE Fakultas Farmasi Marina Elsaida Harianja, seperti dilansir laman Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (11/11/2019).

3. Mahasiswi ITB Bikin Startup Produk Kesehatan Alami

Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) telah membuat startup yang bergerak di berbagai bidang, salah satunya startup Bio-N Oils dan Bio-N Propolis. Start up ini memiliki nama resmi PT Bio Proshafa Karya.

Munculnya penemuan ini berangkat dari hasil penelitian Dr. Muhammad Yusuf Abduh selaku Kepala Program Studi Rekayasa Hayati dan timnya. Kemudian, diimplementasikan oleh Alumni Rekayasa Hayati ITB 2010 Sisca Dewi Ayunda, menjadi sebuah startup.

“Bio-N Oils dan Bio-N Propolis sebagai produk kesehatan alami akan memiliki daya guna yang tinggi di masyarakat,” tuturnya Sisca, dikutip dari web ITB, Jumat (4/10/2019).

Lele

4. Mahasiswa IPB Teliti Bisnis Abon Lele

Mahasiswa IPB dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Mukhamad Khirzan Adil Wafi telah meneliti bisnis abon ikan lele di Boyolali.

Ikan lele ukuran besar tidak memenuhi syarat untuk disortir dan memiliki nilai jual rendah. Oleh karena itu, warga Boyolali menjadikan lele besar ini menjadi abon. Abon ikan lele ini sudah menjadi salah satu oleh-oleh dan ikon kota Boyolali.

"Bisnis pengolahan teknologi tinggi memiliki rasio nilai tambah 58,12%, sedangkan bisnis pengolahan teknologi rendah memiliki rasio nilai tambah 21,39%. Teknologi memengaruhi efektivitas produksi dan meningkatkan nilai jual ikan parut," jelasnya, seperti dilansir dari situs resmi Institut Pertanian Bogor (IPB), Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Menurutnya, bisnis pengolahan dengan teknologi rendah hanya mampu menghasilkan paling banyak 80 kilogram ikan lele dalam satu produksi. Berbeda dengan bisnis pengolahan berteknologi tinggi yang mampu menghasilkan sebanyak 150 kilogram dalam satu produksi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini