nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bos Loreal: Digital adalah Ibu dari Seluruh Transformasi

Hairunnisa, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 11:56 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 19 65 2131656 bos-loreal-digital-adalah-ibu-dari-seluruh-transformasi-5I1pS2yMtV.jpeg Bos L'oreal (Foto: Dok. ITB)

JAKARTA - Bos L’Oréal Indonesia menegaskan, bahwa digital adalah ibu dari seluruh transformasi. Komentar itu merupakan antisipasi kondisi Indonesia yang masuk dalam era disrupsi.

“Digital is the mother of all transformations,” Kata Presiden Direktur PT L’Oréal Indonesia Umesh Phadke saat menjadi pembicara dalam Studium Generale KU-4078 di Aula Barat ITB, seperti dikutip dari laman ITB, Selasa (19/11/2019).

Pada acara yang diikuti ratusan mahasiswa ITB tersebut, ia menyampaikan bagaimana sebuah brand kosmetik bisa tetap menjaga relevansinya di era teknologi digital.

Baca juga: Laurent Bakal Jadi Sarjana Termuda di Umur 9 Tahun, Kok Bisa?

“Inovasi itu bisa hadir dalam banyak hal, misalnya new technology, new product, new packaging, new format and new size, new color dan lain-lain. Dahulu, moisturizer milik L’Oréal tidak memiliki ukuran sachet, namun kini sudah ada teknologi untuk fill in cream di dalam kemasan. Itu adalah inovasi,” jelasnya.

Bahkan menurutnya, inovasi tidak harus selalu hadir dalam skala besar, melainkan bisa dimulai dari hal sederhana seperti adanya perubahan warna dalam sebuah produk.

kosmetik

“Kita seringkali mengasosiasikan inovasi dengan hal-hal besar seperti teknologi smartphone, padahal inovasi bisa dimulai dari hal mendasar. Inovasi adalah sebuah perubahan. Because it is allow people to do something different,” ujarnya.

Umesh menyampaikan kunci dari reinovasi baginya adalah menempat konsumer sebagai pusat utama dan secara konsisten melakukan transformasi.

“Dua keahlian yang dibutuhkan untuk terus melakukan reinovasi adalah listen and break what’s not broken, If you continue doing exactly what you’re doing without paying attention to what’s going on outside in the market you’re surely going to die,” terangnya.

Ia menggambarkan, Kodak dan Fujifilm merupakan dua produk yang pas untuk dijadikan contoh pernyataan yang ia lontarkan sebelumnya. Kodak dan Fujifilm berangkat dari brand yang memiliki spesialisasi di bidang film di awal kemunculan, namun, Kodak saat ini sudah tidak ada sedangkan Fujifilm masih terus berkembang karena Fujifilm terus menerus menemukan hal yang baru.

kosmetik

Tak cukup satu contoh, ia memberikan contoh lain sebuah brand handphone yang dulunya merupakan satu-satunya yang berada di pasaran. Namun, dalam enam tahun market share dari brand tersebut menurun hingga 90%.

Dia menyimpulkan, hal tersebut terjadi karena kurangnya visi yang jelas di dalam perusahaan tersebut dan merasa sudah di posisi aman.

“So, we need to innovate to stay relevant,” sambungnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini