nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dosen ITS Gagas Material untuk Energi dan Lingkungan

Hairunnisa, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 18:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 19 65 2131877 dosen-its-gagas-material-untuk-energi-dan-lingkungan-zOsw2HJPCP.jpg Dosen ITS (Dok ITS)

JAKARTA - Proses konversi energi dari pemanfaatan bahan bakar fosil menimbulkan dampak yang negatif bagi lingkungan, salah satunya adalah pemanasan global. Akibat dari pemikiran inilah, dosen dari Departemen Kimia Fakultas Sains Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Hamzah Fansuri SSi MSi PhD membuka sebuah orasi ilmiah bertajuk Material untuk Energi dan Lingkungan: Membran Berbasis Oksida Perovskit dan Geopolimer, pada 16 November kemarin.

Bidang penelitian yang telah Hamzah tekuni sedari menempuh pendidikan doktor ini mengacu pada penggunaan membran katalis berbasis Oksida Perovskit untuk mengubah metana menjadi bahan bakar minyak berupa metanol. Gas metana sendiri merupakan komponen utama dari sumber energi fosil yaitu gas alam.

 Baca juga: Jus Ini Jadi Perangkat Serbaguna Bermodal e-KTP, Apa Itu?

Efek rumah kaca yang ditimbulkan dari gas metana dampaknya 21 kali lebih kuat daripada karbon dioksida. Sehingga, dalam hal ini, gas metana tersebut lebih baik dibakar secara langsung untuk menjadi karbon dioksida daripada dilepaskan secara langsung ke udara.

 Dosen ITS

“Membran katalis ini akan menangkap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi senyawa organik,” jelas Hamzah seperti yang dikutip dari its.ac.id, Selasa (19/11/2019).

 Baca juga: Mahasiswa Ini Rancang Bendungan Tahan Gempa, Begini Penampakannya

Meninjau lebih lanjut mengenai proses konversiny, pengubahan metana menjadi metanol secara tidak langsung dapat dilakukan dengan mengubah metana terlebih dahulu menjadi Syngas (campuran CO dan H2).

Selain mencakup informasi di atas, batu bara yang juga merupakan salah satu sumber energi fosil tak luput dari bahasan orasi ilmiah tersebut. Batu bara sendiri berpotensi menghasilkan pencemaran yang tinggi dengan menghasilkan limbah berupa fly ash (abu layang). Pendiri Konsorsium Riset Geopolimer Indonesia (KORIGI) tersebut mengonversi abu layang menjadi geopolimer.

Pengubahan abu layang menjadi geopolimer menghasilkan produk bernilai tambah relatif rendah, namun mampu menyerap abu layang dalam jumlah yang sangat besar. Dari geopolimer ini dapat dihasilkan produk untuk kebutuhan bahan bangunan.

“Produk terapan dari geopolimer ini salah satunya adalah paving yang dalam pembuatannya bekerja sama dengan dosen dari Departemen Teknik Sipil,” ujarnya.

Penggunaan abu layang sebagai bahan baku paving ini digunakan sebagai pengganti semen yang dalam produksinya banyak melepaskan karbon dioksida yang berdampak pada pemanasan global.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini