nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Intip Logika Fuzzy dan Penerapannya

Hairunnisa, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 21:32 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 19 65 2131965 logika-fuzzy-dan-penerapannya-HnrgIC2gK8.jpg Prof Laszlo T Koczy DSx (Dok ITS)

JAKARTA – Logika Fuzzy sering digunakan dalam bidang elektronika. Logika ini merupakan jenis logika yang memiliki nilai samar antara benar dan salah. Dalam logika ini, suatu hal bisa bernilai benar dan salah secara bersamaan.

Penerapannya berkaitan dengan masalah yang mengandung unsur ketidakpastian, ketidaktepatan, ataupun kekaburan. Nilai keanggotaanlah yang menentukan tingkat kebenaran dan kesalahan.

Baca juga: Belajar Membuat CV Zaman Now, Jadi Sarana Self Branding

Nilai keanggotaan Logika Fuzzy berada di rentang 0 hingga 1, berbeda dengan Logika Aljabar Boolean yang hanya mengenal notasi 0 dan 1, atau ya dan tidak. Dengan kata lain, Logika Fuzzy digunakan untuk menerjemahkan besaran yang diekspresikan dengan bahasa.

  Prof Laszlo T Koczy DSc

Logika Fuzzy memiliki beberapa kelebihan dibanding logika lain. Penggunaan konsep matematis yang mendasari penalaran Logika ini dinilai sangat sederhana, sehingga mudah dimengerti. Selain itu, data-data yang belum tepat tidak akan langsung dinilai, namun dianalisa lebih mendalam dengan batas toleransi tertentu, sehingga dinilai lebih fleksibel.

 Baca juga: Mahasiswa Ini Rancang Bendungan Tahan Gempa, Begini Penampakannya

Contohnya, jarak diekspresikan dengan dekat, agak dekat, jauh, dan sangat jauh. “Pada dasarnya semua itu muncul secara biologis dari otak manusia dalam mendeskripsikan sesuatu,” terang Prof Laszlo T Koczy DSc, seperti yang dilansir dari its.ac.id saat menjadi pembicara di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Selasa (19/11/2019).

Koczy juga menyebutkan, seorang ilmuwan Amerika Serikat berkebangsaan Iran, Lotfi A Zadeh pada 1965 melalui teori himpunan fuzzy miliknya mendapat nilai yang bisa dianalisa diantara nilai 0 dan 1. Dikarenakan adanya nilai buram ini, logika ini lebih banyak diaplikasikan di Jepang daripada Amerika Serikat. “Sebab budaya barat cenderung memandang persoalan hanya sebagai ya atau tidak, sukses atau gagal. Berbeda dengan kultur timur yang masih ada unsur abu-abu,” sambungnya.

 Baca juga: Limbah Udang Disulap Jadi Filamen 3D Printing

Saat ini Logika Fuzzy sudah ramai digunakan para peneliti. Mulai dari teori kendali, hingga inteligensia buatan. Dalam dunia engineering pun, logika ini sangat berguna untuk memberikan logika yang detail. “Seringkali analisa logika ini menghasilkan sesuatu yang mengejutkan, benar benar baru dan lebih efisien,” ujarnya.

Pada penerapannya, Logika Fuzzy banyak ditemukan dalam perangkat-perangkat elektronik seperti mesin cuci atau Air Conditioner (AC). Secara teknis, pada mesin cuci misalnya, Logika Fuzzy digunakan pada sensor untuk mendeteksi kotoran pada pakaian. Masukan yang diperoleh berupa tingkat kekotoran, jenis kotoran, serta jumlah pakaian yang dicuci.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini