Amnesty International: Pasukan Keamanan Chile Sengaja Gunakan Kekerasan agar Demo Tak Meluas

Rachmat Fahzry, Okezone · Sabtu 23 November 2019 12:33 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 22 18 2133417 amnesty-international-pasukan-keamanan-chile-sengaja-gunakan-kekerasan-agar-demo-tak-meluas-NBn2fqCUBy.jpg Jutaan warga Chile unjuk rasa tuntut Presiden Sebastian Pinera mundur. (Foto/AFP)

SANTIAGO - Pasukan keamanan di Chile sengaja melukai orang-orang yang ikut serta dalam demonstrasi massa saat ini, kata Amnesty International, agar demonstrasi tidak meluas

Sikap kepolisian Chile telah menyebabkan lima orang tewas sementara ribuan lainnya terluka parah, disiksa atau dilecehkan secara seksual, kata laporan itu.

"Niat pasukan keamanan Chile jelas untuk melukai demonstran untuk mencegah protes," kata Erika Guevara-Rosas, direktur Amerika di Amnesty mengutip BBC, Jumat (22/11/2019).

Para pengunjuk rasa menuntut reformasi sosial dan perubahan pada konstitusi yang berasal dari era pra-demokrasi pemimpin militer, Augusto Pinochet.

Baca juga: Penyanyi Chile Telanjang Dada Protes Pemerintah: Mereka Menyiksa, Memperkosa dan Membunuh

Baca juga: Pedemo Menjarah Gereja dan Bakar Patung Yesus di Jalan

Foto/Reuters

Pemerintah telah mengumumkan akan mengadakan referendum tentang konstitusi negara.

Dua puluh dua orang tewas dan lebih dari 2.300 lainnya terluka dalam protes itu.

Apa yang dikatakan Amnesty?

Pasukan keamanan di bawah komando presiden - terutama tentara dan polisi nasional - melakukan serangan menggunakan kekuatan dan berlebihan dengan maksud melukai dan menghukum para pemrotes, kata laporan Amnesty.

Kematian dan cedera itu merupakan taktik yang disengaja untuk mencegah orang lain turun ke jalan, katanya.

"Mereka bukan peristiwa terisolasi atau sporadis. Ini bukan beberapa apel busuk dalam penegakan hukum. Mereka adalah serangan berkelanjutan di berbagai bagian negara," kata Guevara-Rosas.

Ada lebih dari 270 pedemo yang terluka di bagian mata yang terkena peluru karet dan tembakkan gas air mata, dan banyak korban menuduh pasukan keamanan sengaja mengarahkan tembakan ke mata dengan tujuan untuk mencoba membutakan mereka.

Presiden Sebastián Piñera mengakui bahwa dalam beberapa kasus pasukan keamanan mungkin mengabaikan aturan untuk mengatasi demonstrasi massa.

Tentang apa protes itu?

Demonstrasi dimulai awalnya atas kenaikan ongkos kendaraan umum di Santiago, ibu kota Chuile tetapi dengan cepat menyebar ke seluruh negeri dan meluas ke protes yang lebih umum terhadap tingkat ketidaksetaraan yang tinggi, harga perawatan kesehatan yang tinggi, dan dana pendidikan yang buruk.

Penindasan yang keras oleh pasukan keamanan semakin memicu kemarahan pedemo yang direpsons oleh Presiden Piñera dengan menyatakan keadaan darurat negara.

Piñera sejak itu mencapai nada yang lebih damai dan pada hari Minggu mengatakan: "Jika orang menginginkannya, kita akan bergerak menuju konstitusi baru, yang pertama di bawah demokrasi."

Konstitusi saat ini, yang mulai berlaku pada tahun 1980, dibuat pada masa pemerintahan militer.

Meskipun telah ada beberapa amandemen sejak 1980, banyak warga Chile berpikir pemerintah belum bertindak cukup jauh untuk memodernisasi konstitusi tersebut. Mereka menuntut agar negara mengambil peran yang lebih aktif dalam menyediakan layanan kesehatan dan pendidikan publik.

Di bawah kesepakatan antara pemerintah dan partai-partai oposisi yang dicapai, referendum akan diadakan pada bulan April 2020 di mana Chile akan ditanya apakah mereka menginginkan konstitusi baru dan jika demikian, bagaimana itu harus disusun.

Namun pengumuman referendum yang direncanakan gagal untuk memadamkan protes di Santiago, di mana demonstran berkumpul lagi di Plaza Italia dan kelompok-kelompok kecil bentrok dengan polisi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini