nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Guru, Ini Sederet Tantangan di Dunia Pendidikan

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Jurnalis · Jum'at 22 November 2019 19:19 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 22 65 2133350 hari-guru-ini-sederet-tantangan-di-dunia-pendidikan-mGR8skAK6F.jpg Guru (Okezone)

JAKARTA – Pendidikan dan peningkatan kualitas SDM merupakan salah satu fokus pemerintahan Jokowi-Ma'ruf dalam lima tahun ke depan.

Saat ini, salah satu tantangan di dunia pendidikan Indonesia adalah rendahnya kemampuan literasi dasar di mana anak-anak masih tertinggal dari negara-negara tetangganya di wilayah ASEAN, dan hasilnya nampak dalam studi internasional yang menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia.

 Baca juga: Jokowi: PP No 49 Tahun 2018 Buka Peluang Pengangkatan Guru Honorer Jadi PNS

Meski demikian, di akhir tahun 2019 tercatat bahwa dengan model pelatihan pedagogi yang tepat, kompetensi guru bisa menjadi lebih baik dan kemampuan literasi siswa terbukti bisa meningkat. Hal ini adalah berdasarkan studi akhir pelaksanaan program peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (Inovasi) di Provinsi NTB, NTT, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur.

 Guru

Pembangunan SDM tentu mengarah pada angkatan kerja dengan bekal pendidikan dan kompetensi yang cukup untuk menghadapi dunia kerja. Untuk itu Presiden mengatakan bahwa kemampuan dasar anak-anak Indonesia harus terus dibangun, dan kemampuan literasi, matematika, dan sains akan menjadi pijakan bagi peningkatan pengetahuan dan keterampilan anak di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

 Baca juga: Hadiri HUT Ke-73 PGRI, Jokowi: Guru Profesi yang Sangat Mulia

Fondasi untuk semua pembelajaran, yang menjadi prasyarat kecakapan hidup abad ke-21, adalah kemampuan literasi. Dalam riset tersebut, secara sederhana, tidak mungkin mempersiapkan anak-anak muda untuk menghadapi dunia kerja yang ada saat ini dan di masa mendatang, apabila mereka tidak lebih dahulu mendapatkan dasar yang kuat di bidang literasi dan numerasi di kelas-kelas awal SD yang menjadi jenjang awal dari pendidikan dasar sembilan tahun.

Anak-anak yang belum memiliki kemampuan literasi yang baik akan dengan cepat tertinggal dari teman-temannya di seluruh bidang pembelajaran, dan ketimpangan ini semakin melebar seiring waktu.

 Baca juga: Kesejahteraan Minim, Guru Swasta Bakal Terima Tunjangan APBD

Dalam proses pembelajaran di kelas, peran guru sangat besar dalam pencapaian prestasi siswanya.

Pada periode September 2018-Juli 2019, sebanyak 54 program dengan berbagai fokus intervensi dilaksanakan – yaitu literasi kelas awal, kepemimpinan sekolah, kelas rangkap, transisi bahasa ibu di kelas, serta pendidikan inklusif-disabilitas dan keterlibatan masyarakat.

Berdasarkan hasil pelaksanaan program, tercatat beberapa hal terkait kualitas pengajaran dan hasil pembelajaran. Berikut selegkapnya seperti dikutip dari riset Inovasi, Jumat (23/11/2019).

 Baca juga: Hari Guru Nasional, Boneka Susan Ingin Jadi Guru

Tiga masalah utama yang berkontribusi terhadap rendahnya hasil belajar siswa untuk literasi, yaitu

1. Kurikulum tidak memuat aspek mengajar membaca untuk siswa kelas awal, dengan asumsi anak yang terdaftar di SD sudah bisa membaca.

2. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengajarkan literasi di kelas awal.

3. Terbatasnya akses ke bahan bacaan yang menarik dan sesuai dengan usia anak, terutama di daerah terpencil.

 Baca juga: Aksi Siswa Suap Guru Warnai HGN Ke-73 di Aceh

Studi akhir menemukan peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas, di antaranya:

1. Guru menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan konsep yang diajarkan;

2. Guru menggunakan pendekatan yang berfokus pada anak;

3. Kelas memiliki pojok baca;

4. Kelas memajang media belajar seperti alat peraga, poster, peta, atau sumber belajar lainnya yang membuat anak selalu terpapar pada media literasi. Proses pembelajaran yang lebih baik ini berkontribusi pada meningkatnya kemampuan literasi siswa.

Inovasi mencatat bahwa meskipun kemampuan literasi dasar siswa telah meningkat, diperlukan upaya lebih dari meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa. Untuk itu, di tahap kedua, Inovasi memberikan pelatihan tentang metode-metode pengajaran yang lebih baik, seperti melakukan pemetaan kemampuan literasi siswa, menerapkan pembelajaran berbeda (differentiated learning), membaca terbimbing dan meningkatkan pemahaman bacaan atau ketrampilan yang mengarah kepada pemahaman dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), dan didukung dengan akses ke buku bacaan yang sesuai.

Rekomendasi untuk di tingkat pusat:

- Menyusun panduan kurikulum pelatihan sekolah dasar (PGSD, S-1, PPG) untuk menetapkan metode sistematis guru dalam mengajarkan membaca dan mendukung literasi di sekolah dasar

- Meningkatkan kompetensi guru untuk mengajar membaca secara sistematis dan untuk mendorong budaya membaca

- Meningkatkan kapasitas guru terkait pengajaran literasi dan numerasi melalui KKG

- Meninjau buku pelajaran kelas awal

- Meningkatkan akses ke buku bacaan yang sesuai dengan memperluas daftar dan pilihan buku bacaan siswa, dengan melibatkan pemerintah kabupaten/kota dalam mengevaluasi kebutuhan buku dan memastikan ketersediaan, sesuai dengan konteks kedaerahan masing-masing.

Rekomendasi untuk di tingkat daerah:

- Pemerintah provinsi mendukung dan memfasilitasi kegiatan literasi di kabupaten/kota

- Pemerintah kabupaten/kota secara rutin membuat penilaian kemampuan membaca siswa kelas awal dan melaporkan hasilna kepada orang tua dan instansi terkait

- Pemerintah kabupaten/kota menjalankan program literasi bagi siswa sekolah dasar dan menyediakan anggaran rutin

- Pemerintah daerah bermitra dengan lembaga-lembaga non pemerintah terkait dengan penyediaan buku, baik cetak maupun digital, dan untuk memberikan pelatihan kepada guru, membangun perpustakaan sekolah yang berkualitas dan mendukung Taman Bacaan Masyarakat.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini