nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Profesi Menjanjikan di Masa Depan? User Researchers dan UX Researchers

Adhyasta Dirgantara, Jurnalis · Kamis 28 November 2019 16:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 28 65 2135582 profesi-menjanjikan-di-masa-depan-user-researchers-dan-ux-researchers-RInBCo16ja.jpeg Profesor UI (Foto: Dok. Universita Indonesia)

JAKARTA - Di era digital, semua bisa berubah dengan cepat. Banyak profesi musnah, namun juga banyak profesi baru yang menjanjikan, di antaranya user reasearchers dan UX Researchers. Apa itu?

Pada era digital, sebuah perangkat lunak pada akhirnya akan dipakai oleh pengguna. Sehingga pemenuhan terhadap kebutuhan pengguna menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Untuk itu, sebelum perusahaan-perusahaan rintisan digital mengembangkan produknya, ada baiknya mereka melakukan user research terlebih dahulu, sehingga kebutuhan, lingkungan sosial dan budaya, serta faktor psikologi dari para penggunanya bisa dianalisis dengan baik.

Baca Juga: Proses Pemilihan Rektor UI 2019-2024 Dimulai

Dengan menjalankan user research, perusahaan dapat mengembangkan desain yang relevan untuk user, mudah digunakan dan menyenangkan penggunaannya, serta memahami potensi Return on Investment (ROI).

Meskipun user research memiliki peran yang sangat penting, sayangnya praktik ini belum banyak diterapkan oleh perusahaan rintisan digital dalam pengembangan produk mereka.

Hal itu terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Achmad Nizar Hidayanto, S.Kom, M.Kom, seorang profesor dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI) yang baru saja dikukuhkan oleh Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met.

Kampus UI

Dalam pengukuhannya, Prof. Nizar menyampaikan pidato berjudul “Peran User Research dalam Pengembangan Perangkat Lunak untuk Kesuksesan Perusahaan Rintisan (Startup) Digital.” Prof. Nizar memfokuskan pada perspektif konsumen/pengguna perusahaan rintisan.

Prof. Nizar merekomendasikan bagi Perusahaan rintisan digital perlu menginvestasikan timnya terkait User Experience (UX) sebelum produk digitalnya diluncurkan kepada para konsumen.

UX yang baik dari produk digital tersebut diharapkan bisa memberikan pengalaman pertama yang positif kepada para konsumen, sehingga mereka mau mengadopsi dan loyal terhadap produk digital dari perusahaan rintisan digital tersebut.

Pengalaman pertama biasanya tidak akan dilupakan oleh para pengguna. Prof. Nizar juga menyampaikan bahwa Profesi user researchers dan UX researchers merupakan profesi masa depan mengingat kebutuhan yang semakin besar. Hasil survei dari LinkedIn juga menempatkan human-centered design sebagai top three skills yang dibutuhkan di Asia Pacific.

Sementara itu, selain Prof Nizar, Rektir UI juga mengukuhkan Prof. Yudho Giri Sucahyo, M.Kom, Ph.D.

Prof. Yudho menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Refleksi Dua Windu Pengembangan e-Government di Indonesia.” Sejumlah catatan penting di dalam penerapan e-Government di Indonesia diantaranya implementasi Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government ; Pembentukan Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi di tahun 2001 ; Pembentukan Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional yang menetapkan tujuh program unggulan TIK (flagship program) yaitu National Single Window (NSW), e-Pendidikan, Palapa Ring, Software Legal, e-Procurement, e-Anggaran, dan Nomor Identitas Nasional.

Baca Juga: Ari Kuncoro Resmi Jadi Rektor UI periode 2019-2024

Prof. Yudho menuturkan bahwa program flagship telah dikembangkan dan dimanfaatkan dengan baik dalam melayani masyarakat namun pada kenyataannya belum tercipta integrasi informasi menuju sinergi pemanfaatan e-government.

Akibat dari tidak terintegrasinya informasi, keputusan pembangunan yang diambil dapat menjadi tidak tepat sasaran karena informasi yang tidak tepat waktu atau tidak akurat. Disintegrasi informasi juga menyebabkan duplikasi pekerjaan, duplikasi data, dan duplikasi sistem yang mengakibatkan inefisiensi sumber daya TI.

Kampus

Lebih lanjut, dalam pidatonya, Prof. Yudho mengupas pengembangan e-Government dari berbagai aspek yaitu Kelembagaan, Kebijakan, Infrastruktur, Aplikasi, dan Perencanaan. Tinjauan dari segi kelembagaan, Pengelolaan TI di lingkungan Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota sebelum tahun 2016 dapat dikatakan belum terlalu fokus karena ditempatkan dalam satuan kerja yang juga melaksanakan tugas pokok dan fungsi lainnya.

Sedangkan dari aspek kebijakan menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah terkait Peraturan Menteri yang diamanatkan PP dan terkait langsung dengan penerapan e-government di Indonesia.

Sedangkan, tinjauan terhadap aspek infrastruktur bahwa selesainya Palapa Ring memberikan harapan besar untuk percepatan pengembangan e-government di tengah hadirnya Revolusi Industri 4.0 dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia telah menyelesaikan satu tahapan penting penggelaran infrastruktur TI namun masih diperlukan pekerjaan panjang lebih lanjut untuk dapat menghadirkan akses TI ke pengguna di rumah, sekolah dan kantor.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini