nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gelar Kompetisi Paduan Suara Tingkat Nasional, UT Dipuji Kemenristekdikti

Hambali, Jurnalis · Selasa 03 Desember 2019 10:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 03 65 2137248 gelar-kompetisi-paduan-suara-tingkat-nasional-ut-dipuji-kemenristekdikti-5CwxvkVeRE.jpg Foto: Hambali/Okezone

TANGERANG SELATAN - Universitas Terbuka (UT) terus mematangkan diri menjadi perguruan tinggi unggul. Berbagai langkah dilakukan, di antaranya dengan memperbanyak inklusivitas kegiatan kemahasiswaan yang melibatkan perguruan tinggi lain.

Terbaru, kampus UT menggelar kompetisi paduan suara tingkat nasional di UT Convention Centre (UTCC), Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel). Pesertanya terdiri atas kelompok paduan suara mahasiswa yang mewakili perguruan tinggi negeri maupun swasta di wilayah Jawa dan Sumatera bagian selatan.

Terdapat 10 kelompok paduan suara yang berhak masuk ke babak final, yaitu Universitas Pamulang (Unpam), Universitas Langlangbuana, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, STIFLES Wira Husada Yogyakarta, UPBJJ-UT Jakarta, UPBJJ-UT Surakarta, UPBJJ-UT Yogyakarta, UPBJJ-UT Palembang, UPBJJ-UT Bengkulu, dan UPBJJ-UT Semarang.

Ke-10 kelompok itu bersaing pada fase final yang berlangsung Sabtu 30 November 2019. Turut hadir dan membuka kompetisi secara resmi Direktur Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Didin Wahidin.

"Empat tahun lebih saya keliling Indonesia, hanya untuk mengampanyekan bahwa kegiatan kemahasiswaan itu penting. Kalau seandainya sekarang ini universitas terbuka saja sudah melakukan kegiatan kemahasiswaan, artinya program saya berhasil," terang Didin memuji banyaknya kegiatan di kampus UT.

Menurutnya, selama ini yang tergambar dalam benak masyarakat bahwa mereka yang kuliah di UT merupakan orang-orang tertutup karena rutinitas belajarnya hanya di rumah. Namun dengan makin semaraknya kegiatan yang dihelat di kampus UT, maka predikat itu hilang.

"Biasanya UT itu identik dengan orang-orang yang belajar di rumah, belajar di mana saja, kumpul pun tidak pernah, sehingga kemudian banyak orang ragu, menjemukan sekali jadi mahasiswa UT. Dengan acara seperti ini, predikat itu akan hilang dan mahasiswa UT yang fresh graduate dari hari ke hari akan semakin meningkat," jelasnya.

Dia menyadari terjadinya gejala paradoksal atau disebut gejala lokalisasi. Hal itu merupakan dampak dari era globalisasi yang telah menciptakan tumbuh suburnya perguruan tinggi hingga ke tingkat kecamatan. Dengan kata lain, dia mengatakan telah terjadi pengkotak-kotakan antara mahasiswa di satu kampus dengan mahasiswa kampus lainnya.

"Perguruan tinggi sekarang jumlahnya mencapai 4.750-an lebih, itu membuat orang terkotak-kotak dalam lingkup yang sangat lokal. Sehingga kemudian, harus ada upaya kita untuk membangun, melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menyatukan seluruh warga bangsa yang tersebar itu untuk kemudian bersatu," imbuhnya.

Dilanjutkannya, salah satu cara menyatukan mereka di berbagai kampus yang terkotak-kotak itu adalah dengan membuat kegiatan kemahasiswaan, seperti halnya kompetisi paduan suara antar perguruan tinggi tingkat nasional yang kini tengah berlangsung di UT.

"Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi apa yang diwujudkan oleh UT melalui kompetisi ini," ujarnya.

UT sendiri menganggap bahwa paduan suara dan musik sebagai bagian dari seni yang memiliki banyak nilai. Dalam skala yang lebih luas, paduan suara menjadi wadah untuk berekspresi dan sekaligus sebagai media komunikasi.

Seni paduan suara mengalami perkembangan yang cukup pesat di Indonesia. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya paduan suara tanah air yang berhasil menorehkan prestasi di kancah Internasional.

Kompetisi bertajuk "Terbuka Memadu Suara Nusantara" ini baru pertama digelar di UT. Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan mahasiswa mampu mengembangkan kepribadiannya agar memiliki integritas yang tinggi terhadap pelestarian dan pengembangan kebudayaan nasional.

"Ada beberapa yang kita ingin capai dengan perlombaan ini, di antaranya pembinaan bakat mahasiswa, lalu kita harap juga antar mahasiswa bisa membangun kerjasama, tali silaturahmi, antar masyarakat, sehingga tidak hanya tingkat lokal. Kami ingin mewujudkan diri menjadi universitas yang bukan biasa-biasa saja levelnya, tapi teratas," ungkap Ojat Darojat, Rektor UT di lokasi yang sama. (adv)

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini