Benarkah Tingkat Pendidikan di RI Masih Rendah? Ini Faktanya

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Okezone · Senin 09 Desember 2019 07:12 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 08 65 2139374 benarkah-tingkat-pendidikan-di-ri-masih-rendah-ini-faktanya-lcokw2QK2G.jpeg Milenial (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain. Hal ini dapat dilihat dari skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2018. Berdasarkan hasil PISA 2018, Indonesia meraih skor di bawah rata-rata yang ditetapkan oleh mereka.

Berikut ini fakta seputar hasil PISA 2018 di Indonesia yang dirangkum oleh Okezone.com:

1. Indonesia Berada di Peringkat 10 besar Terbawah dalam Peringkat PISA 2018

Berdasarkan Laporan PISA 2018 yang dikutip pada Rabu (4/12/2019), merupakan studi yang menilai 600.000 anak berusia 15 tahun di 79 negara, baik berpenghasilan tinggi maupun menengah. Studi dilakukan setiap tiga tahun sekali dengan membandingkan kemampuan membaca, matematika, dan kinerja sains dari setiap siswa.

 Baca Juga: 6 Skema Pendidikan 2020 di Indonesia, di Sini Selengkapnya

Pada kategori kemampuan membaca, Indonesia meraih skor rata-rata yakni 371, jauh di bawah rata-rata OECD yakni 487. Berada di peringkat ke-74, jauh di bawah Thailand yang peringkat 68, Malaysia peringkat 58, dan Singapura di peringkat 2. Namun lebih tinggi dari Filipina yang di peringkat 79.

Kemudian untuk kemampuan matematika, Indonesia meraih skor 379, masih berada di bawah rata-rata OECD yang sebesar 489. Indonesia berada di peringkat ke-73, tertinggal dari Thailand yang di peringkat 58, Malaysia di peringkat 48, dan Singapura di peringkat 2. Tapi masih di atas Filipina yang di peringkat 78.

Lalu untuk kemampuan sains, Indonesia berada di peringkat 71 dengan skor sebesar 396, berada di bawah rata-rata OECD yang sebesar 489. Lagi-lagi berada di bawah Thailand yang di peringkat 54, Malaysia di peringkat 49, dan Singapura di peringkat 2. Tetapi masih di atas Filipina yang di peringkat 78.

Dengan demikian, dalam ketiga bidang tersebut peringkat Indonesia selalu berada di 10 besar terbawah.

grafik

2. Kemampuan Membaca, Matematika, dan Sains Orang Indonesia Berada di Level Rendah

OECD mencatat, hanya 30% siswa di Indonesia yang kemampuan membacanya berada di tingkat cukup tinggi atau berada di level 2. Padahal rata-rata OECD yakni 77 % siswa.

Kemudian untuk kemampuan matematika, hanya 28% siswa Indonesia yang mencapai kemahiran level 2, di mana rata-rata OECD yakni 76%. Serta pada kemampuan sains, sekitar 40% siswa Indonesia mencapai level dua, padahal rata-rata OECD yakni 78%.

Adapun kemampuan level 2 dalam kemampuan matematika, mengartikan siswa dapat menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi dapat direpresentasikan secara matematis. Sedangkan dalam kemampuan sains, menggambarkan siswa mampu mengenali penjelasan yang benar untuk fenomena ilmiah yang dikenal dan dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengidentifikasi, dalam kasus-kasus sederhana.

3. Indonesia Naik Enam Peringkat dari Posisi Sebelumnya

Sebanyak 72 negara, termasuk Indonesia, mengikuti Programme for International Student Assessment (PISA) untuk mengevaluasi sistem pendidikan dalam bidang matematika, sains, dan membaca. Penilaian yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) itu dilakukan setiap tiga tahun sekali kepada siswa berusia 15 tahun dari sekolah secara acak.

Berdasarkan hasil survei 2015 yang baru saja dirilis, Indonesia berhasil naik enam peringkat dari posisi sebelumnya yakni dua terbawah. Sayangnya, peningkatan capaian tersebut masih di bawah rata-rata negara-negara OECD.

"Hasil PISA menggembirakan dibandingkan sebelumnya. Kita termasuk empat terbaik dalam hal peningkatan di antara 72 negara yang ikut," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Totok Suprayitno.

grafik

4. Pentingnya Hasil PISA bagi Pendidikan di Tanah Air

Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan laporan PISA sangat penting untuk Indonesia karena memberikan sebuah persprektif baru dan angle baru.

"Saya menyebutnya cara belajar. Kita tidak mungkin mengetahui apa yang harus kita perbaiki atau lanjutkan kalau kita tidak dapat perspektif dari luar. Di sinilah kunci kesuksesan belajar, yaitu untuk mendapatkan perspektif dari berbagai macam area bidang,” ungkap Nadiem seperti dikutip Okezone pada akun Instagram @kemdikbud.ri.

Pada hasil rilis PISA 2018, Mendikbud juga menambahkan pentingnya hasil PISA bukan hanya untuk mengukur sistem pendidikan Indonesia, tapi juga melihat aspek-aspek pendidikan Indonesia yang belum ditekuni

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini