nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jumlah Pengunjung Patung Persatuan India Lampaui Patung Liberty, Sebagian Warganet Malah Mengkritik

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 10 Desember 2019 08:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 09 18 2139813 jumlah-pengunjung-patung-persatuan-india-lampaui-patung-liberty-sebagian-warganet-malah-mengkritik-TkWmPVDaOl.jpg Patung Persatuan di India. (Foto: Reuters)

NEW DELHI - Data terbaru tentang jumlah pengunjung harian memperlihatkan bahwa Patung Persatuan (Statue of Unity) di Negara Bagian Gujarat, India, telah melampaui rata-rata pengunjung harian landmark terkenal Patung Liberty di Amerika Serikat (AS). Diresmikan pada Oktober 2018, monumen setinggi 182 meter yang ditujukan untuk menteri dalam negeri pertama India, Vallabhbhai Patel itu merupakan patung tertinggi di dunia.

Menurut laporan yang baru-baru ini dirilis, Patung Persatuan di India dikunjungi lebih dari 15.000 pengunjung per hari, sedangkan pada akhir pekan jumlah pengunjung mencapai hingga 22.430 orang. Sementara di sisi lain, Patung Liberty di AS yang berusia 133 tahun rata-rata dikunjungi 10.000 pelancong setiap harinya.

Setelah mengetahui berita itu, sebagian besar pengguna Twitter India menggambarkan Patung Persatuan sebagai tempat yang layak dikunjungi dan dianggap sebagai prestasi yang membanggakan bagi negara Asia Selatan itu.

Namun, tidak sedikit suara yang muncul mempertanyakan kepada pemerintah untuk meningkatkan perekonomian negara alih-alih bangga atas pencapaian tersebut.

“Siapa yang peduli tentang berapa banyak orang yang datang ke sini? Mari kita bicara tentang ekonomi, keselamatan wanita dan selusin hal lain yang lebih penting!!,” kata pengguna Ashish Sahani dalam sebuah tweet sebagaimana dlansir Sputnik. Beberapa tweet senada juga menuntut pemerintah untuk memperbaiki perekonomian dan kesejahteraan rakyat sebelum menanamkan uang untuk monumen tersebut.

Pertumbuhan ekonomi tahunan India melambat menjadi 4,5% pada kuartal Juli-September tahun ini, yang merupakan laju terlemahnya sejak 2013. Situasi ini memberi tekanan pada Perdana Menteri Narendra Modi untuk mempercepat reformasi karena lima penurunan suku bunga oleh bank sentral telah gagal untuk meningkatkan investasi.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini