nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Penjelasan Nadiem Makarim soal Sistem Asesmen Pengganti UN

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Kamis 12 Desember 2019 18:24 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 12 65 2141205 ini-penjelasan-nadiem-makarim-soal-sistem-asesmen-pengganti-un-D01LmUQdbw.jpg Nadiem Makarim. (Foto: Okezone.com/Arif Julianto)

JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menjelaskan asesmen kompetensi dan survei karakter yang digadang-gadang jadi program pengganti Ujian Nasional (UN), saat rapat dengan Komisi X DPR.

Nadiem menjelaskan, pihaknya sudah punya ‘modal’ untuk mengambil keputusan menghapus UN. Dia pun mengaku terinspirasi dari berbagai macam asesmen dari berbagai negara.

“Kita bekerjasama dengan berbagai macam organisasi seperti organisasi yang membuat PISA yaitu OECD. Dan juga satu lagi yang semuanya mengakses secara murni kompetensi bernalar. Kompetensi bernalar itu artinya apa. konten daripada asesmen kompetensi itu sangat sulit dibimbel kan bapak-bapak, ibu-ibu ,” kata Nadiem di ruang rapat Komisi X DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Nadiem mengungkapkan, asesmen kompetensi berdasarkan analisis memliki dua topik. Pertama mengenai literasi yaitu kemampuan membacaa atau kemampuan memahami konsep bacaan.

Sementara yang kedua adalah kemampuan mengaplikasikan konsep berhitung di dalam suatu konteks yang abstrak atau yang nyata.

Nadiem Makarim. (Foto: Okezone.com/Fahreza Rizky)

“Ini merupakan suatu fundamental, suatu kompetensi fundamental. Kenapa kita pilih literasi dan numerasi? Karena ini dua area fundamental, kondisi di mana semua mata pelajaran itu hanya bisa mencapai pembelajaran yang real kalau dia bisa memahami logikanya literasi dan numerasi. Jadi ini adalah kompetensi inti itu untuk bisa belajar apapun itu. Bisa belajar Fisika, IP, Matematika, Bahasa, Sastra, Sejarah,” jelas Nadiem.

Sementara, untuk survei karakter bakal berisi pertanyaan tentang pemahaman asas-asas Pancasil. "Survei karakter di sinilah kita akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan untuk menemukan seberapa jauh asas-asas Pancasila telah ditanamkan kepada anak ini,"ujarnya.

Mantan CEO Gojek ini menekankan, survei karakter juga bakal menggali pemahaman siswa tentang gotong royong, kebhinnekaan dan toleransi. Survei tersebut akan mendalami apakah siswa mendapatkan perundungan selama sekolah, tekanan dari guru atau hal yang menyangkut intoleransi.

"Survei ini untuk menanyakan apakah ini anak dikondisikan dengan aman, apakah dia merasa, apakah di-bully di kelas, apakah dia mendapat tekanan dari murid, orang tua maupun guru di dalam lingkungan dia, apa dia diberi ajaran yang tidak toleran," kata Nadiem.

Nadiem mengatakan, konsep tersebut akan diterapkan di jenjang SD, SMP dan SMA. Jika UN dilakukan di akhir masa sekolah, namun konsep baru dilaksanakan di tengah masa sekolah.

“Kenapa kita lakukan? Agar sudah tidak bisa lagi angka, hasil ini digunakan sebagai alat seleksi masuk kepada tahap berikutnya. Mau enggak mau tidak bisa digunakan lagi sebagai tanda prestasi siswa untuk masuk ke jenjang berikutnya. Ini sangat penting, ini untuk mengakhiri penghukuman siswa dengan angka UN. Jadi itu 2021 baru akan terjadi,” ucap Nadiem.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini