Berlawanan dengan Parlemen, Trump Tolak Sebut Pembantaian Warga Armenia Sebagai Genosida

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 18 Desember 2019 15:01 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 18 18 2143402 berlawanan-dengan-parlemen-trump-tolak-sebut-pembantaian-warga-armenia-sebagai-genosida-c2CLpKw0NI.jpg Gedung Putih. (Foto: Reuters)

WASHINGTON - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pihaknya tidak menganggap pembunuhan massal orang-orang Kristen Armenia oleh Kesultanan Utsmaniyah pada 1915 sebagai sebuah genosida. Pernyataan tersebut bertentangan dengan suara bulat yang diambil Senat AS pekan lalu.

Armenia mengatakan 1,5 juta orang tewas dalam upaya untuk menghapuskan kelompok etnis itu di tengah kancah Perang Dunia I. Pembunuhan itu terjadi pada hari-hari memudarnya Kesultanan Utsmaniyah, cikal bakal Turki modern.

BACA JUGA: DPR AS Akui Pembunuhan Massal Kristen Armenia Sebagai Genosida

"Posisi pemerintahan tidak berubah," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus dalam sebuah pernyataan yang dilansir BBC pada Selasa. "Pandangan kami tercermin dalam pernyataan definitif presiden tentang masalah ini dari April lalu," katanya.

Dalam sebuah pernyataan pada peringatan pembunuhan itu April lalu, Trump mengatakan AS memberi penghormatan kepada para korban dari "salah satu kekejaman massal terburuk abad ke-20", tetapi ia tidak menggunakan kata genosida. Sebaliknya, ia mendorong orang-orang Armenia dan Turki untuk "mengakui dan mengingat sejarah mereka yang menyakitkan".

Foto: Reuters.

Setelah dua pemungutan suara pekan lalu di DPR dan Senat AS mengakui pembantaian itu sebagai genosida, sebuah sebagai kemenangan simbolis yang telah lama ditunggu-tunggu untuk orang Armenia. Menyusul pengakuan parlemen AS itu, Presiden Turki Recip Tayyip Erdogan mengancam akan menutup pangkalan udara Incirlik di Turki, yang menjadi lokasi penyimpanan tuan rumah hulu ledak nuklir AS.

BACA JUGA: Turki Didesak Akui Genosida 1,5 Juta Warga Kristen Armenia

Dia menyebut pemungutan suara yang dikenal sebagai resolusi sederhana itu "tidak berharga" dan "penghinaan terbesar" bagi rakyat Turki. Resolusi sederhana tidak mengikat presiden, membuatnya bebas untuk mengabaikannya.

Kementerian luar negeri Turki pada Jumat memanggil duta besar AS untuk mengungkapkan kemarahannya atas keputusan Senat itu, menuduh AS telah "mempolitisasi sejarah".

Meski ada kesepakatan umum bahwa ratusan ribu orang Armenia tewas ketika Turki Utsmani mendeportasi mereka secara massal dari Anatolia timur ke padang pasir Suriah dan tempat lain di tengah kancah Perang Dunia I pada 1915-16. Turki menyangkal ada kampanye sistematis untuk membantai warga Armenia tersebut sebagai kelompok, dan mengklaim mereka terbunuh atau mati karena kelaparan dan penyakit.

Pemerintah Turki mengakui bahwa kekejaman telah dilakukan tetapi berpendapat bahwa tidak ada upaya sistematis untuk menghancurkan orang-orang Kristen Armenia. Turki mengatakan banyak Muslim Turki yang tidak bersalah juga tewas dalam kekacauan perang yang terjadi.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini