WNI Pembunuh Warga Sambas Terancam Hukuman Mati di Malaysia

Ade Putra, Okezone · Minggu 22 Desember 2019 13:04 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 22 340 2144844 wni-pembunuh-warga-sambas-terancam-hukuman-mati-di-malaysia-vtj4qYXjcn.jpeg Pelaku ditangkap polisi Malaysia. (Foto: Istimewa)

PONTIANAK – Pemuda 22 tahun asal Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, berinisial ADS (sebelumnya ditulis MP) terancam hukuman mati di Malaysia. Pasalnya, pemuda yang bekerja sebagai petugas keamanan perusahaan Shin Yang, Bintulu, Sarawak, Malaysia itu membunuh sesama rekan kerjanya.

Ancaman hukuman mati ini, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negeri Jiran. "Saat ini, tersangka sudah dilakukan penahanan untuk proses penyelidikan lebih lanjut di bawah Seksyen 302 Kanun Keseksaan (KUHP) dengan ancaman hukuman mati," kata Liaison Officer (LO) Polri Konsulat Jenderal Jenderal Indonesia (KJRI) di Kuching Sarawak, AKBP Joni Getamala kepada Okezone, Minggu (22/12/2019).

Sebagaimana diketahui, ADS membunuh Zulkibli, warga Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat di area perkebunan perusahaan Shin Yang, Batu 22, Jalan Bintulu-Miri Lama, Bintulu, Sarawak, Malaysia, pada Kamis 19 Desember 2019, Pukul 17.30 waktu setempat.

Pemicunya adalah ketersinggungan saat pelaku ditegur korban. Berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi yang berada di lokasi kejadian, sebelumnya ADS bersama Zulkibli serta enam orang WNI lainnya akan menjalankan tugas shift sore dengan menggunakan mobil Toyota Hilux. Mobil itu dikendarai oleh seorang warga negara Malaysia.

Baca juga: Pembunuh Warga Sambas Ditangkap, Sempat Potong Rambut Kelabui Polisi Malaysia

Seperti biasanya, Zulkibli selalu duduk di kursi depan dan pekerja lain berada di bak belakang mobil tersebut. Berbeda pada hari nahas itu. Pria 47 tahun itu justru mendapati ADS telah menempati tempat duduk bagian depan. "Melihat hal tersebut, korban langsung menegur tersangka dan diminta pindah ke belakang. Tersangka tidak terima sehingga terjadi adu mulut," jelas Joni.

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Puncaknya, tersangka menusuk perut korban dengan sebilah pisau dan selanjutnya melarikan diri. Sementara itu, korban dibawa ke Rumah Sakit Bintulu oleh enam temannya dan sopir mobil. "Pada saat tiba di Rumah Sakit Bintulu, korban dinyatakan meninggal dunia," ujar Joni.

Kejadian ini kemudian dilaporkan ke kepolisian setempat. Berdasarkan keterangan para saksi, identitas pelaku diketahui. Sehingga foto pelaku tersebar di mana-mana, termasuk di media sosial. Tak kurang dari 24 jam, tepatnya pada 20 Desember 2019, Pukul 13.30 waktu setempat, tim gabungan dari Polis RCJ, Task Force dan JSJ Bintulu berhasil menangkap pelaku di rumah sewa Jalan Tanjung Batu.

Polisi juga menyita barang bukti pisau berukuran 37 sentimeter yang digunakan unuk menghabisi nyawa korban. Sementara terhadap jenazah korban, secepatnya akan dilakukan post mortem (autopsi). "KJRI Kuching sudah bergerak ke Bintulu untuk penanganan korban guna pemulangan ke daerah asal secepatnya," terang Joni.

Meski demikian, proses otopsi harus mendapat persetujuan dari pihak keluarga atau ahli waris. Jika semua sudah terlaksana, maka jenazah bisa dipulangkan ke daerah asal dengan dibiayai oleh pihak perusahaan tempat korban bekerja. Hal ini sesuai prosedur yang berlaku.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini