nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Metode Kanguru, Bantu Perkembangan Bayi dengan Berat Badan Rendah

Fabbiola Irawan, Jurnalis · Senin 23 Desember 2019 12:56 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 23 65 2145144 metode-kanguru-bantu-perkembangan-bayi-dengan-berat-badan-rendah-AWyDc5yoCI.jpg Ilustrasi Bayi dengan Berat Rendah. (Foto: Dok. UI)

JAKARTA – Bayi berat lahir rendah (BBLR) kurang dari 2.500 gram dengan kelahiran prematur memiliki risiko masalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Untuk mencegahnya, Prof. Yeni Rustina, S.Kp., M.App.Sc., Ph.D melakukan penelitian untuk mengoptimalisasi pertumbuhan dan perkembangan BBLR melalui asuhan perkembangan.

Yeni yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Keperawatan UI (FIK UI) menyampaikan, bayi yang lahir rendah menyumbang hampir 40% kelainan stunting. Untuk mencegahnya lakukanlah pemberian asuhan perkembangan atau developmental care.

Baca Juga: Viral Kobra di Permukiman Warga, Seberapa Bahaya Bisanya?

“Asuhan perkembangan adalah upaya untuk menurunkan stress, memfasilitasi konservasi energi dan mempercepat penyembuhan, memfasilitasi pertumbuhan bayi, dan memfasilitasi tidur bayi, serta memberi dukungan kepada orangtua sebagai pemberi asuhan di rumah. Tim Keperawatan dapat melakukan intervensi berupa pemberian lingkungan yang aman melalui penataan kebisingan, pencahayaan, cara memegang bayi; memfasilitasi kecukupan oksigen; pemberian nutrisi yaitu air susu ibu (ASI); penatalaksanaan nyeri; menjaga bayi tidur, dan pengaturan posisi,” ujar Yeni Rustina, dalam laman UI, Senin (23/12/2019).

Bayi

Salah satu metode asuhan perkembangan adalah perawatan metode kanguru atau Kangaroo Mother Care atau Perawatan Metode Kanguru (PMK). PMK pada hakikatnya memberikan kehangatan kepada bayi, memberikan ASI lebih banyak kepada bayi, menaikkan berat badan bayi lebih cepat, waktu tidur bayi lebih lama, serta mengurangi inveksi.

Tidak hanya melakukan PMK saja untuk mencegah masalah pertumbuhan atau perkembangan, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI) Prof. drg. Nurhayati A.Prihartono juga memaparkan peran epidemiologi sebagai pencegahan penyakit dan gangguan kesehatan.

Baca Juga: Teror Kobra, Ini Tips agar Ular Tak Masuk ke Rumah

“Epidemiologi merupakan salah satu kunci bagi kita untuk mengetahui faktor risiko dan distribusi suatu gangguan atau masalah kesehatan,” jelas Prof. Nurhayati.

Bahkan Suatu penelitian telah dilakukan terhadap 279 anak-anak berusia 1-5 tahun yang bermukim dekat tempat daur ulang aki bekas di Jakarta dan Tangerang. Studi itu menyatakan Dinyatakan bahwa sekitar 56% anak mempunyai kadar timbal dalam darah yang lebih tinggi dari nilai standar (5 µg/dL), dan sekitar 9% diantaranya memiliki kadar timbal darah 10 µg/dL atau lebih tinggi.

Pajanan timbal dalam darah khususnya pada anak-anak dapat mengakibatkan penurunan tingkat kecerdasan, masalah kesehatan, bahkan berdampak sosial.

Oleh karenanya diperlukan upaya pengelolaan limbah berbahaya dan beracun yang lebih baik, terutama di sekitar pemukiman di Indonesia.

“Kami juga mengimbau agar masyarakat perlu diedukasi tentang bahaya timbal terhadap kesehatan dan diikutsertakan dalam pengendalian bahaya timbal. Demikian pula, penyedia layanan kesehatan anak perlu mengetahui tentang pentingnya memeriksa timbal dalam darah anak-anak, gejala yang ditimbulkan oleh keracunan timbal dan follow-up anak yang mempunyai kadar timbal darah 5 µg/dL atau lebih,” lanjut Prof. Nurhayati.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini