Indonesia Potensial Kembangkan Kendaraan Listrik, Modalnya Bahan Baku Primer

Irene, Okezone · Jum'at 10 Januari 2020 16:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 10 65 2151506 indonesia-potensial-kembangkan-kendaraan-listrik-modalnya-bahan-baku-primer-mveSeDJ3bG.jpg Mobil Listrik (Foto: Okezone.com)

BANDUNG - Indonesia dapat memainkan peranan yang strategis di industri kendaraan listrik. Apalagi industri kendaraan listrik diprediksi akan tumbuh cepat pada tahun-tahun yang akan datang.

Potensi yang dimiliki Indonesia adalah bahan baku primer untuk baterai kendaraan listrik, khususnya nikel, kobalt, alumunium, tembaga dan mangan, serta pasar domestik mobil dan kendaraan bermotor yang cukup besar.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr.mont. M. Zaki Mubarok, S.T., M.T., saat pidato ilmiah dalam Sidang Terbuka Peresmian Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) Program Doktor, Magister, dan Program Profesi Semester II Tahun 2019/2020. Prof. Zaki mengangkat pidato ilmiah dengan topik “Penyediaan Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik di dalam Negeri Melalui Proses Pengolahan dan Pemurnian Bijih Nikel Laterit”.

Baca Juga: Soal Mobil Listrik, Menko Luhut: Semua Harus Untung

Menurut data Mineral Commodity Summaries 2019 dari United State of Geological Survei (USGS) tahun 2019, Indonesia mempunyai cadangan nikel terbesar di dunia yaitu sebesar 21 juta ton nikel ekivalen pada 2008 dan tingkat produksi tambang pada tahun tersebut sebesar 560.000 ton nikel ekivalen.

“Cadangan nikel di Indonesia adalah dalam bentuk deposit nikel laterit yang merupakan produk laterisasi atau pelapukan batuan ultramafik (batuan yang mengandung magnesium dan besi),” ujarnya seperti dikutip dari ITB, Jumat (10/1/2020).

Baca Juga: Mimpi Jokowi, RI Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar Dunia

Prof. Zaki menambahkan, baterai merupakan komponen kunci untuk kendaraan listrik dan berkontribusi sekitar 35-40% dari harga mobil listrik pada saat ini. Komponen biaya terbesar untuk pembuatan baterai mobil listrik adalah biaya materialnya yang mencapai kurang lebih 60% dari total biaya pembuatan baterai.

“Mobil listrik menggunakan baterai lithium ion dengan lithium nikel, kobalt, mangan dan alumunium digunakan sebagai bahan baku material katoda serta grafit sebagai material anodanya. Material katoda memberikan kontribusi paling tinggi terhadap harga sel baterai lithium yaitu sekitar +-34%,” jelasnya.

 Mobil Listrik

Dia memperkirakan penjualan mobil listrik di dunia akan terus meningkat mencapai +- 55%, pada tahun 2040 sekitar 48%-nya adalah mobil listrik berbasis baterai.

Di Indonesia telah ditandatangani Peraturan Presiden No.55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan. Menurutnya, Indonesia dapat memainkan peran strategis pada industri kendaraan listrik karena ketersediaan bahan baku dan juga pasar domestik untuk mobil dan sepeda motor.

“Sebagian besar material yang dibutuhkan untuk pembuatan baterai mobil listrik tersedia di dalam negeri, kecuali lithium yang proses ekspolarinya masih terus ditingkatkan,” kata guru besar Bidang Metalurgi Ekstraksi.

Riset ITB

Kegiatan riset mengenai proses ekstraksi dan pemurnian logam dilakukan di KK Teknik Metalurgi, FTTM ITB. Dalam 10 tahun terakhir, telah banyak kegiatan penelitian yang dilakukan di Lab Hidro-elektrometalurgi baik pada tahap hulu hingga sintesis prodak.

Pada tahun 2020 ini, seperti dijelaskan Prof. Zaki, Laboratorium Hidro-elektrometalurgi, KK Teknik Metalurgi ITB akan dilakukan penelitian untuk menyintesis nikel sulfat dan kobalt sulfat dari bijih nikel laterit lokal yang akan digunakan untuk mempreparasi katoda sel baterai NMC.

“Peluang penelitian dan pengembangan proses sintesis material untuk penyediaan material baterai kendaraan listrik masih cukup terbuka baik di area proses pengolahan dan pemurnian mineral maupun daur ulang logam hingga preparasi material prekursoso baterai dan pengujian performa sel baterai yang telah dihasilkan,” kesimpulannya.

 Mobil Listrik

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini