nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tradisi Nyandau, Bermalam di Tengah Hutan Demi Durian Jatuh

Sigit Dzakwan, Jurnalis · Minggu 12 Januari 2020 00:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 11 340 2151891 tradisi-nyandau-bermalam-di-tengah-hutan-demi-durian-jatuh-0on9aPA5e3.jpeg Tradisi Nyandau di Kalteng (Sigit Dzakwan)

KOTAWARINGIN BARAT - Melestarikan budaya, adat istiadat lokal wajib dilakukan semua masyarakat. Sebab seringkali budaya adat lokal suatu daerah tergerus modernisasi.

Kali ini, Okezone mencoba mengikuti tradisi nyandau (panen bersama) buah durian. Tradisi ini masih dilakukan oleh warga dayak di Desa Riam dan Desa Panahan, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng).

Di saat musim durian seperti sekarang, sejak Desember hingga Januari, warga setempat melakukan ritual nyandau. Ritual ini dengan cara bermalam di tengah hutan dengan membuat pondok yang tidak jauh dari pohon durian di perbukitan Balang, Desa Riam.

Untuk melestarikan budaya ini, pihak kantor desa mengundang, Bupati Kobar Nurhidayah beserta rombongan SOPD Kobar diajak menyandau durian di Camp Harapan, Desa Riam pada Jumat malam 10 Januari hingga Sabtu pagi (11/1/2020). Selain mengikuti tradisi menyandau durian juga berdialog bersama warga sekitar.

Ilustrasi

Sabtu pagi rombongan berangkat dari Camp Harapan Desa Riam menunju Bukit Balang menggunakan mobil karena jalan yang menanjak dan licin. Setelah itu berjalan kaki setapak menanjak menuju Bukit Balang sekitar 500 meter menuju pohon durian.

Tidak hanya “king of fruit” yang dicari, rombongan juga mendapatkan buah “kerantungan” masih sejenis durian yang lebih kecil dengan rasa yang manis dan isinya hanya 1 sampai 3 biji saja.

Durian yang dipanen masyarakat Desa Riam dan Panahan, bukan lah durian yang dipetik dari pohonnya. Namun menunggu durian tersebut jatuh, kemudian dikumpulkan lalu dijual kepada pengepul untuk dikirim ke Kota Pangkalan Bun.

Harga jual durian asal Desa Riam Durian bervariatif. Mulai dari yang terkecil Rp5.000 hingga paling besar Rp20 ribu per buah. Bahkan, pembeli bisa memborong langsung durian tersebut dengan harga yang cukup murah.

"Selain nyandau durian, tidak lain tujuan kita adalah bersilaturahmi dengan warga Desa Riam dan Panahan," ujar Bupati Nurhidayah, saat menyandaun durian, Sabtu (11/1/2020).

Menurut Nurhidayah, nyandau durian ini merupakan salah satu program kegiatan pembangunan. Pasalnya, Kacamatan Aruta memiliki potensi utama pengembangan varietas lokal tanaman hutan seperti buah durian, kerantungan, pampaan dan buah hutan lainnya.

"Posisi ketinggian di bukit Balang ini sekitar 2.000 mdpl, jadi sensasinya memberikan explore tersendiri dan ini menjadi satu harapan ke depan wisata baru nyandau durian bersama masyarakat Kecamatan Aruta.”

Nurhidayah berpesan kepada masyarakat Kecamatan Aruta agar menjaga potensi yang ada dan jangan sampai hutan tersebut beralih fungsi.

"Kapan perlu, pohon-pohoh durian yang berusia ratusan tahun ini bisa dire-planting dengan pohon yang baru. Karena hanya ini yang masih tersisa dan menjadi sejarah untuk anak cucu kita generasi yang akan datang," jelasnya.

"Buah durian lokal kita tidak kalah dengan buah di tempat yang lain. kalau sudah beralih fungsi, mungkin generasi berikutnya tidak akan bisa menikmati durian asli pohon usia ratusan tahun ini," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini