nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peneliti Virginia Tech Teliti Hewan Amfibi dan Reptil di Kampus Tegalboto Unej

Hairunnisa, Jurnalis · Minggu 12 Januari 2020 19:08 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 12 65 2152050 peneliti-virginia-tech-teliti-hewan-amfibi-dan-reptil-di-kampus-tegalboto-unej-Sn5LUms0D8.jpeg Penelitian Deirdre Conroy di Kampus Tegalboto. (Foto: Okezone.com/Unej)

JAKARTA - Kenakeragaman hayati di Kampus Tegalboto, Universitas Jember memicu keingintahuan para peneliti baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk melakukan observasi. Salah oleh Peneliti Hewan Amfibi asal Amerika Serikat (AS) Deirdre Conroy.

Peneliti lulusan College of Natural Resources and Enviroment Virginia Polytechnic Institute and State University (Virginia Tech) ini turut serta dalam observasi Herpetofauna yang dikoordinir oleh Peneliti dari Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Agung Kurnianto, pada 28 Desember 2019 di Kampus Tegalboto. Sebelumnya, Agung Kurnianto dan tim juga telah melakukan pengamatan burung.

Baca Juga: Agar Mahasiswa Tak Gaptek, Unej Akan Masukkan TIK Jadi Mata Kuliah Umum

Dalam observasinya, Agung Kurnianto dan Deirdre Conroy bersama timnya menemukan fakta menarik, di antaranya mereka menemukan satu jenis amfibi dan dua reptil yang seharusnya memiliki habitat di hutan namun justru ditemukan di wilayah kampus Universitas Jember.

“Herpetofauna adalah observasi terhadap hewan amfibi dan reptil yang biasanya dilakukan malam hari, saat hewan amfibi dan reptil aktif. Dan temuan kami cukup menggembirakan, kami menemukan jenis katak kecil, kadal serasah dan ular hijau viper yang berbisa yang biasanya ditemukan di hutan,” jelas Agung Kurnianto dalam keterangannya, Minggu (12/1/2020).

Penelitian di Kampus Tegalboto Unej

Penemuan katak kecil (Occidozyga sumatrana) di wilayah Kampus Tegalboto membuktikkan bahwa keberadaan katak berukuran maksimal 1 cm ini menandakan bahwa kondisi alam Kampus Tegalboto, khususnya kondisi airnya tergolong baik. 

“Hewan amfibi seperti katak hidupnya sangat tergantung pada air, mengingat sebagian besar daur hidup dan proses reproduksinya ada di air. Jadi penemuan katak kecil ini membuktikan bahwa kualitas air di wilayah ini tergolong baik. Sebab jika kondisi air di suatu wilayah tercemar, maka yang pertama kali terkena dampaknya adalah hewan amfibi. Apalagi untuk katak kecil yang kulitnya sangat sensitif teradap perubahan kualitas air,” urai Agung.

Baca Juga: Universitas Jember Akan Bangun Kampus Baru di Klakah

Kedua, keberadaan hewan amfibi dan reptil di kampus ini yang beraneka ragam menunjukkan keberhasilan Universitas Jember menjaga kelestarian wilayahnya. Sebab jika sebuah daerah kondisi alamnya rusak maka amfibi dan reptil yang paling rentan punah mengingat mereka tidak bisa pindah ke daerah lain, berbeda dengan burung yang bisa berimigrasi. Salah satu contohnya penemuan kadal serasah tadi yang jarang ditemukan di daerah lain.

“Saya suka dengan kondisi kampus Universitas Jember yang hijau dengan ditumbuhi banyak pohon, apalagi saat melakukan observasi herpetofauna saya menemukan hewan amfibi dan reptil yang menjadi minat saya. Keberadaan Kampus Tegalboto ini penting di saat pelestarian lingkungan seringkali harus berhadapan dengan masalah pemenuhan kebutuhan manusia. Maka habitat, flora dan fauna yang ada harus kita lindungi,”ujar Deirdre Conroy.

Selain penemuan katak kecil dan kadal serasah, temuan istimewa lainnya adalah ular hijau viper sepanjang kurang lebih 70 sentimeter dengan diameter sekitar 7 sentimeter. Cukup besar untuk ukuran ular jenisnya. Ada pula temuan ular kobra jawa, weling hingga sanca batik. Kekayaan flora dan fauna di ini membuka kesempatan yang luas untuk melakukan riset lanjutan. Agung dan tim sudah mengagendakan observasi untuk kupu-kupu sekitar kampus dalam waktu dekat. Untuk diketahui kupu-kupu memiliki peran dalam perkembangan tanaman dengan cara membantu penyerbukan tanaman.

“Termasuk meneruskan kegiatan observasi burung atau birdwatching yang sudah kami lakukan. Pasalnya pada kegiatan birdwatching lanjutan kami menemukan satu jenis burung yang selama ini masuk dalam kategori dilindungi karena hampir punah justru ada di wilayah Kampus Tegalboto.

Untuk itu kami terus melakukan birdwatching agar hasil observasinya benar-benar akurat,” pungkas Agung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini