Ternyata, Mahalnya Harga Rokok Bisa Kurangi Konsumsi Protein dan Kalori Rumah Tangga

Hairunnisa, Okezone · Senin 13 Januari 2020 11:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 13 65 2152230 ternyata-mahalnya-harga-rokok-bisa-kurangi-konsumsi-protein-dan-kalori-rumah-tangga-gFBKeNHnvY.jpg Harga Rokok Naik (Foto: Okezone.com/Giri)

JAKARTA - Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyelenggarakan sidang terbuka Promosi Doktor Triasih Djutaharta yang berlangsung di Auditorium Pascasarjana, Gedung Pascasarjana.

Disertasi yang diangkat bertajuk Dampak Harga Rokok dan Lingkungan Sosial Merokok pada Konsumsi Rokok, Pangan dan Nutrisi Rumah Tangga di Indonesia. Studi ini menilai pengaruh harga rokok dan informasi merokok dalam fungsi permintaan rokok, makanan, dan implikasinya terhadap nutrisi rumah tangga.

Baca Juga: Sri Mulyani Uji Tesis di UI, Apa yang Ditanyakan?

Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat memahami proses transmisi dari harga rokok ke realokasi pengeluaran dan perubahan konsumsi antara komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga.

Dalam pemahaman ini menggunakan model Almost Ideal Deman System (AIDS) dan untuk menilai sifat fungsi permintaan, estimasi menggunakan regresi batasan.

Data utama yang digunakan dalam model ini adalah Survei Sosial dan Ekonomi 2014 dan data pendukung berasal dari Riset Kesehatan Dasar 2013 serta Potensi Wilayah Pedesaan 2014. Dalam model estimasi, makanan diklasifikasikan ke dalam delapan kelompok.

“Hasilnya ialah pertama, kenaikan harga rokok akan meningkatkan pangsa pengeluaran rumah tangga untuk rokok dan mengurangi sebagian besar kelompok makanan dan pada gilirannya akan mengurangi konsumsi protein dan kalori rumah tangga. Kedua, bahwa peningkatan lingkungan sosial dari prevalensi merokok akan meningkatkan bagian pengeluaran rumah tangga untuk rokok,” ujar Triasih Djutaharta seperti dilansir situs resmi UI, Jakarta, Senin (13/1/2020).

Baca Juga: UI Bikin Ruang Kerja Komunal untuk Ciptakan Banyak Startup Baru

Estimasi permintaan setiap komoditas untuk rumah tangga yang tidak mengkonsumsi rokok dilakukan dengan metode Invers Mills Ratio (IMR). Harga diproksi dari nilai unit yang telah dikoreksi dengan melepaskan faktor non nilai. Faktor non-nilai mencakup karakteristik rumah tangga dan aksesibilitas ketersediaan makanan.

“Di sisi lain, lingkungan sosial yang membatasi merokok, yaitu Kebijakan Area Bebas Rokok akan mengurangi kemungkinan partisipasi merokok dan juga mengurangi bagian pengeluaran rumah tangga terhadap rokok,” tutupnya.

 Rokok

(dni)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini