nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Guru Besar ITB Ungkap 5 Aspek dalam Sistem Industri

Vania Halim, Jurnalis · Selasa 14 Januari 2020 17:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 14 65 2152830 guru-besar-itb-ungkap-5-aspek-dalam-sistem-industri-2TH8wqa7br.jpg Guru Besar ITB soal Industri (Foto: Dok ITB)

JAKARTA - Saat ini, badan usaha atau pelaku industri menghadapi tantangan yang besar yaitu dalam upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas operasional di berbagai area fungsional dan manajerial.

Kehadiran teknologi informasi dan sistem informasi banyak dimanfaatkan perusahaan terutama untuk mendukung proses perencanaan serta eksekusi di dalam industri secara komprehensif.

Baca Juga: NIVA, Alat Deteksi Dini Sumbatan di Dalam Pembuluh Darah

Dengan mengangkat judul “Sistem Informasi Industri Meningkatkan Kinerja Enterprise Melalui Integrasi Sistem dan Data Analytics”, Prof. Rajesri Govindaraju mengungkapkan pentingnya integrasi sistem pada suatu perusahaan serta pentingnya menganalisis data sebagai pertimbangan pengambilan keputusan dalam acara Orasi Ilmiah Guru Besar ITB.

Guru Besar pada Kelompok Keahlian Sistem Informasi dan Keputusan, FTI-ITB itu menjelaskan bahwa teknik industri adalah disiplin ilmu yang mengkaji sistem terintegrasi. Sistem itu adalah people, material, equipment, energy, dan information.

Baca Juga: 4 Mahasiswi Cantik Ini Ciptakan Aplikasi untuk Penyandang Tunarungu

"Definisi ini mengimplikasikan bahwa desain suatu sistem industri memerlukan 5 aspek sistem terintegrasi termasuk dukungan pemrosesan informasi. Selain itu, desain sistem kerja harus selaras dengan perkembangan teknologi informasi,” ujarnya seperti dikutip situs ITB, Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Dari situ diperlukan alignment atau penyesuaian di antara pemanfaatan teknologi infomasi dengan pola perusahaan menjalankan operasi dalam rangka mencapai tujuannya.

Sistem informasi memiliki komponen yaitu hardware, software, database, network, people, dan procedure. Prof. Rajesri menuturkan bahwa perkembangan industri saat ini sedang menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi.

Sistem informasi yang banyak berperan mendukung operasi industri saat ini adalah Enterprise Systems (ES) yang terdiri dari Enterprise Resource Planning (ERP), Supply Chain Management (SCM), Manufacturing Execution System (MES), dan aplikasi dari e-Business lainnya.

Dalam industri, perencanaan serta eksekusi secara komprehensif memerlukan integrasi proses yang baik. Integrasi tersebut bersifat horizontal (antararea fungsional antarperusahaan) serta integrasi vertikal atau integrasi antara level yang berbeda di dalam sebuah perusahaan.

Prof. Rajesri menuturkan bahwa perusahaan yang tidak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya informasi saat ini akan mati atau lumpuh.

"Kemampuan comprehensive planning and execution dapat lebih akurat dengan melakukan data analytics. Keakuratannya dapat memungkinkan secara real-time,” ungkapnya.

Salah satu bentuk pemanfaatan sistem informasi industri yang mendominasi saat ini adalah penggunaan Enterprise Resource Planning (ERP).

Prof. Rajesri mengatakan bahwa sistem ERP mendukung perencanaan sumber daya secara terintegrasi. ERP adalah perkembangan Manufacturing Resource Planning yang belum dapat mengintegrasikan kegiatan manufaktur dengan area fungsional lainnya. Menurutnya proses bisnis sebuah perusahaan terkadang perlu direkayasa ulang karena cakupan integrasi yang luas dan kompleks.

“Perusahaan perlu mengadopsi praktik bisnis terbaik agar ERP dapat mencapai tujuannya. Manfaat ERP adalah diperolehnya standardisasi proses, perbaikan aliran kerja, serta tersedianya informasi di area supply-chain internal perusahaan secara real-time,” jelasnya.

Selain itu, dia mengatakan bahwa implementasi ERP memiliki dua skenario yaitu on-premise (menyediakan infrastruktur sistem secara menyeluruh untuk internal dalam perusahaan) dan ERP cloud solutions (infrastruktur yang banyak tidak diperlukan sehingga cocok untuk UMKM).

Di sisi lain, terdapat tiga tantangan utama pelaku usaha atau industri saat ini. Pertama yaitu perusahaan dituntut selalu berkolaborasi dan meningkatkan intelegensi untuk menjadi unggul dan kompetitif secara berkelanjutan. Kedua, perusahaan harus mengedepankan kerjasama mitra atau partnership. Ketiga adalah tantangan analisis data dari big data sebagai masukan untuk mengambil keputusan.

“Perdagangan global mengakibatkan perusahaan manufaktur melakukan konsep extended enterprise yaitu melakukan kerjasama dengan perusahaan lain untuk menghasilkan produk yang terbaik,” ungkapnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini