nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ribuan Warga Kunjungi Klinik Ganja Medis Pertama di Thailand

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Minggu 19 Januari 2020 11:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 18 18 2154862 ribuan-warga-kunjungi-klinik-ganja-medis-pertama-di-thailand-CvyjpCx4va.jpg Warga mengunjungi klinik ganja medis di Thailand. (Foto/The Star)

BANGKOK – Ribuan warga Thailand mengunjungi klinik ganja medis pertama di negara itu pada Jumat 17 Januari 2020.

Melansir The Star, Sabtu (18/1/2020) klinik tersebut telah dikunjungi 4.639 pasien, yang telah memesan janji temu terlebih dahulu melalui aplikasi.

Sementara 12 ribu warga lainnya masih menunggu antrean agar bisa mengunjungi klinik, yang berada di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan Thailand itu.

Menteri Kesehatan Masyarakat Anutin Charnvirakul mengatakan, klinik tersebut mengeluarkan obat-obatan yang mengandung ganja untuk pasien yang membutuhkan.

Obat-obatan yang dikelaurkan yakni 8.094 botol ganja medis dan hampir 2.000 obat tradisional.

Baca juga: Thailand Akan Izinkan Warganya Menanam Ganja di Rumah lalu Dijual ke Pemerintah

Baca juga: Thailand Salurkan 4.500 Botol Ganja Medis ke Rumah Sakit

Foto/Bangkok Post

Banyak dari pasien ini datang untuk mengobati insomnia, gangguan migrain, nyeri persendian dan nyeri punggung.

Thailand menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang melegalkan ganja medis dan kratom pada 2018. Meski demikian, ganja yang digunakan untuk rekreasi tetap ilegal di negara itu, dan pnggunanya terancam hukuman penjara.

Negeri Gajah Putih itu juga telah membangun fasilitas, yang pemerintah sebut sebagai fasilitas ganja medis skala industri terbesar di Asia Tenggara.

Anutin memperkirakan ganja yang dilegalkan akan menjadi tanaman yang lebih signifikan dan menguntungkan bagi Thailand daripada beras, tebu, tapioka, karet, atau produk lainnya yang sebagian besar merupakan komoditas negara agraris.

Dia meyakini upah rendah Thailand dapat menjadi daya saing di pasar internasional, jika dibandingkan dengan perusahaan ganja asing yang lebih besar di mana biaya produksi jauh lebih tinggi.

Anutin percaya Thailand bisa mendapatkan keunggulan kompetitif untuk ekspor ganja.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini