nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Kuliah di Australia, Setelah Lulus Bingung Berkarier di Mana?

Minggu 19 Januari 2020 09:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 19 65 2154981 cerita-kuliah-di-australia-setelah-lulus-bingung-berkarier-di-mana-ZUTsv1u8aS.jpg Nabila Cerita Pengalaman Kuliah di Melbourne. (Foto: Okezone.com/ABC Indonesia)

JAKARTA - Mahasiswa yang menjalani kuliah di luar negeri dihadapkan dua pilihan ketika lulus. Seperti mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi di Australia, diperhadapkan dengan dua pilihan, pulang ke Indonesia atau menetap sambil mencari kerja di sana.

Mereka yang memutuskan untuk tinggal lebih lama setelah lulus akan mengajukan visa 'Temporary Graduate', yang diperuntukkan bagi lulusan Australia yang ingin menetap dua hingga empat tahun. Pada umumnya, lulusan yang mengajukan visa tersebut masih ingin mencoba bekerja atau mendapatkan lebih banyak pengalaman di Australia.

Namun sebagian dari lulusan yang sudah mendapat tawaran pekerjaan dari Indonesia lebih memilih untuk pulang, meski menjadi sebuah keputusan yang berat.

Dari tiga orang lulusan Australia yang saat ini sedang meniti karier di Indonesia. Tatiana Arianne Raisa kini bekerja sebagai direktur seni junior di salah satu perusahaan teknologi informasi di Jakarta.

Baca Juga: Tips Belajar di Menit-Menit Terakhir Jelang Ujian

Namun, sesekali perempuan berusia 23 tahun ini tampil di panggung teater ibukota, setelah sebelumnya pernah kerja di balik layar pada Mei 2019 lalu.

"Lingkungan seni dan kebudayaan di Melbourne lah yang menginspirasi saya untuk mengejar karier dan berteater di Jakarta sekarang ini," kata Tatiana, lulusan Fakultas Seni di Deakin University, Australia, dilansir dari ABC Indonesia, Minggu (19/1/2020).

"Saya melihat bagaimana Melbourne sangat maju dan terbuka dalam berseni dan saya ingin melihat hal yang sama di Jakarta. Sebelum terjun menjadi aktor, saya bekerja di belakang layar Teater Pandora," katanya.

Baca Juga: Tips Tetap Prima Beraktivitas di Kampus meski Musim Hujan

Setelah lulus kuliah di 2018, Tatiana sempat berpikir untuk bekerja sebentar di Melbourne sebelum kembali ke Indonesia. Tawaran kerja di Jakarta namun menariknya untuk kembali ke Indonesia dan meniti karier.

Sama halnya dengan Tatiana, peluang bekerja di Jakarta juga memikat hati Nabila Salwa Sabbas Ernada, yang kembali ke Jakarta pada Agustus 2018, setelah dia dinyatakan lulus kuliah dari Deakin University di Melbourne.

Meski awalnya dia berencana untuk tinggal di Australia, Nabila memutuskan untuk menggali potensinya di Indonesia. "Sejujurnya saya tidak berencana untuk pulang ke Indonesia, apalagi untuk langsung bekerja," kata Nabila, yang saat ini bekerja sebagai staff komunikasi di 'United Nations World Food Programme' atau Program Pangan Dunia PBB.

"Tapi di semester akhir saya melihat beberapa peluang pekerjaan yang justru menarik untuk ditelusuri," sambungnnya.

Bagi Nabila yang berasal Samarinda ini, pengalaman kuliah di Melbourne telah memberikannya kesempatan untuk hidup dan bekerja di lingkungan internasional.

"(Lingkungan internasional) Dari segi sekolah dan pertemanan, maupun penempatan kerja, jadi biasa dengan berbagai macam individu dari latar belakang yang berbeda-beda," tuturnya.

Menurutnya, pengalaman di Melbourne telah membekalinya pengetahuan etos kerja dan ini memudahkannya dalam menyesuaikan diri dengan pekerjaan di kantor PBB.

Pengalaman bekerja dengan orang Australia di Melbourne juga dianggap lebih bermanfaat, seperti yang diakui Steven Tandijaya, lulusan Victoria University di Melbourne.

"Saya pernah bekerja sebagai kasir, pramuniaga dan barista (di Australia). Saya dan teman saya juga pernah [buka] usaha kecil-kecilan jual martabak. Menurut saya pengalaman-pengalaman itu yang membuat saya bulat akan keputusan untuk terjun dalam dunia bisnis,” ujarnya.

Saat ini, Steven yang tinggal di Bandung sedang menjalankan bisnis daur ulang. Dalam bisnis tersebut, dia bertugas mengumpulkan sampah botol plastik, mengolahnya menjadi kotak dan menjualnya ke pabrik tekstil.

Menurutnya, pengalaman bekerja paruh waktu yang ia lakukan saat sekolah di Australia telah mengasah kemampuan berkomunikasi dengan para pelanggannya.

"Dalam usaha limbah yang saya tekuni sekarang ini, saya harus bisa berkomunikasi dengan baik dengan klien saya, yang kebanyakan adalah pabrik-pabrik," kata Steven.

"(Di Australia), saya belajar berkomunikasi dengan orang-orang di atas saya untuk menjual produk dagangan saya," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini