nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jadi Cyber University, Kampus UT Dihadapkan 2 Tantangan Utama

Hambali, Jurnalis · Senin 20 Januari 2020 15:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 20 65 2155542 jadi-cyber-university-kampus-ut-dihadapkan-2-tantangan-utama-94R3vYzzFZ.jpg Ilustrasi Kampus (Foto: Shutterstock)

 TANGERANG - Universitas Terbuka (UT) mengokohkan diri menjadi Cyber University di Indonesia. Meski begitu dalam prosesnya bukanlah tanpa tantangan, sebab ada 2 hal yang harus segera dientaskan.

Dari kedua hal itu, yang pertama adalah soal fasilitas akses jaringan internet. Karena bagaimanapun juga, Cyber University bertopang pada infrastruktur jaringan internet yang memadai.

"Tantangan yang dihadapi oleh UT secara garis besar ada 2, yang pertama adalah terkait dengan akses terhadap jaringan. Mahasiswa UT yang tersebar sampai ke pelosok tanah air, di 514 kabupaten-kota, itu tidak semua mahasiswa UT yang ada di daerah terpencil punya akses ke jaringan," kata Rektor UT Ojat Darojat kepada Okezone, usai acara penyerahan ijazah kepada 501 wisudawan, di UT Convention Centre, Pamulang, Senin (20/1/2020).

Baca Juga: UT Wisuda 2.157 Mahasiswa, Lulusan Terbaiknya Gadis Cantik Asal Serang

Menghadapi kondisi itu, menurut Ojat, pihaknya sangat menekankan kerjasama dengan kementerian dalam memfasilitasi dibangunnya tiang-tiang pemancar jaringan Base Transceiver Station (BTS) hingga ke pelosok pedalaman Indonesia.

"Kita mengkomunikasikan dengan pihak pemerintah, Kemenkominfo. Sedangkan BTS-BTS, pemerintah harus hadir di sana, supaya mahasiswa UT yang ada di daerah pinggiran, 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), perbatasan, itu bisa memanfaatkan pembelajaran secara online atau online learning ini. Itu hambatan yang paling serius," jelasnya.

Bahkan lebih dramatis lagi, Ojat menceritakan, bahwa ada kesaksian mahasiswanya yang menyebut jika untuk mendapatkan akses jaringan mereka harus menaiki pepohonan yang cukup tinggi, hingga ada pula yang menggapai atap rumah.

Baca juga: Kolaborasi Kunci Penting Membangun Indonesia Society 5.0

"Jadi mahasiswa UT bukan hanya tinggal di perkotaan, tapi banyak juga mahasiswa yang tinggal di puncak gunung, di puncak bukit, lembah ngarai," imbuhnya.

Dibeberkan Ojat, dari total 350 ribu mahasiswa UT saat ini, maka hanya sekira 45 hingga 50 ribu mahasiswa saja yang dapat memanfaatkan akses jaringan untuk online learning. Sedang sisanya sekira 300 ribu mahasiswa mengikuti secara offline.

"Sekarang kalau mahasiswa UT ada 350 ribu, itu baru sekira 45 sampai 50 ribuan yang akses ke jaringan. Jadi yang memanfaatkan UT online dalam data base kita itu sekira 50 ribuan. 300 ribu offline, jadi mereka memanfaatkan bahan ajar yang tercetak, terus juga layanan tatap muka," ungkapnya.

Berikutnya tantangan kedua bagi UT adalah soal komputer dan internet dari literasi level mahasiswa yang masih rendah. Di katakan Ojat, cukup banyak pula mahasiswa konvensional yang tak mengupdate kemampuan mereka dalam menggunakan kemajuan teknologi.

"Jadi banyak juga mahasiswa kita, generasi yang lama, mereka masih gagap menggunakan teknologi. Jadi sebagian bukan hanya soal ketiadaan jaringan, tapi juga karena komputer dan internet literasi levelnya yang kurang memadai, dan itu memang kewajiban kita untuk terus mengedukasi mahasiswa supaya mereka bisa meningkatkan kemampuannya," terangnya.

Cyber University merupakan suatu upaya menjadikan kampus menerapkan teknologi informasi dalam berbagai hal. Misalnya pada pelayanan, fasilitas, sistem pembelajaran, kurikulum, hingga sarana dan prasarana lainnya.

Baca juga: Universitas Terbuka Resmi Miliki 2 Program Studi Doktoral

Guna mengokohkan status sebagai Cyber University itu, UT mengundang tim peninjau kualitas dari the International Council for Open and Distance Education (ICDE) pada tanggal 9 hingga 13 Desember 2019 lalu di kantor pusat UT, UPBJJ- UT Palembang, UPBJJ-UT Surakarta, dan UPBJJ-UT Denpasar.

Kedatangan peninjau ICDE itu merupakan yang kesekian kali, dari sebelumnya yang juga pernah datang pada tahun 2005, 2010, dan 2016. Tim peninjau yang datang adalah Prof. Shironica Priyanthi Karunanayaka dari The Open University of Sri Lanka, Prof. Ebba Ossiannilsson dari Lund University Swedia, dan Prof. Alan Tait dari The Open University, UK.

ICDE sendiri bertugas memfasilitasi dan memberikan bantuan dalam pelaksanaan kegiatan penelaahan mutu kelembagaan UT. Proses reviewnya melibatkan jajaran pimpinan UT, unit-unit di UT serta UPBJJ, hingga para penulis bahan ajar dan tutor maupun mahasiswa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini