nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tanaman Ini Terbukti Bisa Menangkis Banjir

Hairunnisa, Jurnalis · Sabtu 25 Januari 2020 14:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 25 65 2158203 tanaman-ini-terbukti-bisa-menangkis-banjir-N9b5WjmsFk.jpg Akar Wangi (Flowersoftindia)

JAKARTA - Sebanyak 12 Pemerintah Daerah menetapkan status tanggap darurat setelah dilanda banjir dan longsor yang disebabkan karena hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang sejak akhir tahun lalu.

Mengutip dari keterangan ipb.ac.id, Sabtu (25/1/2020) menjelaskan, terdapat beberapa tanaman yang berpotensi mengurangi bencana longsor. Salah satunya tanaman akar wangi (Crysopogon zizanioides) atau yang biasa dikenal vetiver selama ini digunakan untuk menghasilkan minyak atsiri dan digunakan sebagai bahan baku parfum dengan harga yang relatif tinggi.

 Baca juga: Jalur Khusus Pendidikan Tinggi untuk Ketua OSIS

Secara ekonomi, minyak atsiri ini merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Selain menghasilkan minyak atsiri, tanaman akar wangi dapat menjadi tanaman konservasi lahan dan air karena memiliki akar yang banyak dan panjangnya bisa dua hingga tiga meter.

Tanaman akar wangi juga memiliki kekuatan tarik (tensile strength) 1/6 nya besi sehingga ketika menyatu dengan tanah dapat membentuk matriks yang membuat struktur tanah kokoh. Dengan kemampuan membentuk matriks tanah yang solid tersebut, tanaman akar wangi dapat bermanfaat sebagai pencegah tanah longsor.

 Baca juga: Limbah Produksi Kelapa Sawit Disulap Jadi Bahan Pengganti Serat Sintetis

Memanfaatkan tanaman vetiver lebih baik hanya berfokus pada satu fungsi saja yakni konservasi atau produksi minyak atsiri. Hal ini mempertimbangkan perbedaan masa tanam yang dibutuhkan serta mempertimbangkan pemanenan akar tanamannya. Apabila akar dipanen semua secara serentak maka dapat merusak soliditas struktur tanah yang sudah terbentuk.

Kelebihan tanaman akar wangi adalah mudah tumbuh. Adapun umur tanamannya bisa satu tahun jika akan diambil minyaknya, namun untuk tujuan konservasi lahan, bisa 3-4 tahun, tergantung dengan kondisi tanah. Di Indonesia, penanaman akar wangi saat ini lebih banyak digunakan untuk memproduksi minyak atsirinya dan sebagai bahan produk kerajinan dari akar wangi yang telah kering. Tetapi ada peluang kedua tujuan tersebut dapat digabungkan, jika dapat dikembangkan pola tanam tumpang sari dengan manajemen panen yang selektif.

 Baca juga: IPB Buka Jalur Seleksi Ketua OSIS dan Prestasi Pramuka

Penelitian ini dilakukan oleh Dosen dosen Institut Pertanian Bogor (IPB University) Departemen Teknologi Industri Pertanian, sekaligus Pendiri dan Ketua Umum Dewan Atsiri Indonesia (DAI) tahun 2010-2015 Dr Meika Syahbana Rusli. Ia mengharapkan agar perhatian terhadap budidaya tanaman penghasil minyak atsiri semakin ditingkatkan. Terlebih di sisi lain kita juga prihatin terhadap kondisi kerusakan lingkungan yang mengakibatkan bencana banjir sehingga perlu adanya keterpaduan.

Ia juga mengharapkan tanaman ini dapat ditemukan sistem tumpangsari yang memungkinkan akar wangi dapat menjadi tanaman konservasi dan setelah jangka waktu tertentu ada yang dapat dipanen untuk dimanfaatkan minyak atsirinya. Baginya ini merupakan tantangan bagi IPB University dalam menemukan pola tumpangsari yang cocok sehingga dapat memberikan nilai ekonomi dan nilai lingkungan pada produk akar wangi.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini