nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswa Ini Usung Konsep Kota Low Carbon City, Apa Itu?

Hairunnisa, Jurnalis · Sabtu 25 Januari 2020 19:40 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 25 65 2158294 mahasiswa-ini-usung-konsep-kota-low-carbon-city-apa-itu-f5eZiHmf2N.jpg Perkotaan (Shutterstock)

JAKARTA - Mahasiswa asal Program Studi (Prodi) Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Difa Ayu Balqist bersama timnya gagas konsep 'Inovasi Kebijakan Konsep Low Carbon City dengan Studi Kasus Kota Surakarta, Sukoharjo, dan Karanganyar' sebagai idenya untuk mengharapkan suatu kota yang berketahanan atau 'resilience.'

Difa berujar bahwa dalam esai yang ia tulis berisi konsep suatu kota yang resilience atau kota yang berketahanan. Tujuannya adalah agar kota tersebut dapat berketahanan dengan perubahan-perubahan yang ada seiring berkembangnya jaman.

 Baca juga: Rektor UNS: Kepakaran Keilmuan Profesor Harus Dibuktikan

"Kalau latar belakangnya berkaitan dengan tema, dimana pada saat ini kita telah memasuki era disrupsi, yaitu adanya perubahan fundamental yang sejatinya bisa terjadi kapan saja sehingga memberikan dampak yang signifikan terhadap seluruh aspek tatanan kehidupan. Oleh karenanya, suatu kota diharapkan dapat menjadi kota yang resilience, yaitu kota yang berketahanan dengan adanya perubahan-perubahan yang beriringan dengan pesatnya kemajuan teknologi dan perkembangan zaman," tambah Difa dalam keterangannya, Jumat (24/1/2020).

Bagi mahasiswa Prodi PWK FT UNS tersebut, konsep Low Carbon City perlu didukung dengan adanya langkah untuk mengurangi emisi dari transportasi umum, konsep green building, pengurangan penggunaan energi, penambahan ruang terbuka hijau (RTH), dan penggunaan energi terbarukan.

 Baca juga: Prototipe Robot Pencari Korban Bencana Ini Mampu Tembus Kebakaran Hutan

Namun, dalam implementasinya Difa menemui sejumlah permasalahan. Salah satu contohnya, Difa mengatakan adanya pengalihfungsian lahan menjadi bangunan. Padahal, sebuah kota/ kabupaten setidaknya harus memiliki RTH sebesar 30%.

Oleh sebab itu, ia mengusulkan adanya kebijakan insentif dan disinsentif sebagai cara untuk menetapkan kewajiban dalam menerapkan konsep green building dalam membangun suatu bangunan.

 Baca juga: Banjir Jakarta, Pusat Studi Bencana LPPM UNS Tekankan Pentingnya Early Warning System

"Kalau dari esai saya judulnya mengarah ke kebijakan, otomatis dengan ditetapkan adanya kebijakan insentif dan disinsentif atau kalau bisa peraturan dari pemerintah ini akan lebih bagus. Tentunya hal itu akan sangat membantu pengaplikasiannya. Sebagai contoh semisal pemberlakuan pajak yang lebih rendah bagi pabrik yang telah menggunakan konsep green industri dan menggunakan energi terbarukan dalam pengolahan produknya,” pungkasnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini