Mantan Intelijen Israel: Virus Korona Diduga Bocor dari Laboratorium di Wuhan

Muhamad Rizky, Okezone · Minggu 26 Januari 2020 02:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 26 18 2158349 mantan-intelijen-israel-virus-korona-diduga-bocor-dari-laboratorium-di-wuhan-7NNf655jQx.jpg Petugas medis memeriksa penumpang pesawat yang mendarat dari wilayah dekat Wuhan, di Shanghai, China. (Foto : Reuters)

WUHAN – Virus korona yang menyebar secara global diduga berasal dari laboratorium Wuhan yang terkait program senjata biologis rahasia China. Hal itu seperti diungkapkan pakar perang biologis Israel, Dany Shoham.

Radio Free Asia pekan ini menyiarkan ulang laporan televisi lokal Wuhan dari 2015 yang menunjukkan laboratorium penelitian virus paling maju di Tiongkok, yang dikenal dengan Institut Virologi Wuhan, lapor Radio Free Asia.

Laboratorium itu satu-satunya tempat di China yang mampu menangani virus mematikan.

Mantan perwira intelijen Israel yang telah mempelajari perang biologis China, Dany Shoham, menjelaskan institut tersebut terkait program senjata biologis rahasia Beijing.

"Laboratorium tertentu di institut ini mungkin telah terlibat, dalam hal penelitian dan pengembangan (senjata biologis) China. Paling tidak secara kolateral. Namun belum sebagai fasilitas utama senjata biologi China," kata Shoham pada The Washington Times, seperti dikutip pada Minggu (26/1/2020).

Pekerjaan senjata biologis ini dilakukan sebagai bagian dari penelitian ganda sipil-militer dan "terselubung," katanya dalam email.

Shoham meraih gelar doktor dalam bidang mikrobiologi medis. Pada 1970-1991, ia merupakan analis senior intelijen militer Israel untuk perang biologis dan kimia di Timur Tengah dan seluruh dunia. Selain itu, dalam militer Israel, Shoham memiliki pangkat letnan kolonel.

Pada masa lalu, China membantah memliki senjata biologis. Departemen Luar Negeri AS dalam laporannya tahun lalu mencurigai China terlibat dalam pekerjaan perang biologis rahasia.

Namun, juru bicara Kedutaan Besar China belum membalas email untuk memberikan komentar atas tuduhan tersebut.

Pihak berwenang China sejauh ini menyatakan, tidak mengetahui asal-usul virus korona yang telah membunuh banyak orang dan menginfeksi ratusan lainnya di pusat Provinsi Hubei.

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Gao Fu, mengindikasikan virus tersebut berasal dari hewan liar yang dijual di pasar makanan laut di Wuhan.

Selain itu, muncul desas-desus yang beredar di internet China bahwa virus tersebut merupakan konspirasi AS untuk menyebarkan senjata kuman.

China pun tengah mempersiapkan propaganda untuk melawan tuduhan di masa depan bahwa virus baru itu lepas dari salah satu laboratorium penelitian sipil atau pertahanan Wuhan.

WHO menyebut mikroba itu dengan nama 2019-nCoV. WHO belum mendeklarasikan wabah itu sebagai Darurat Kesehatan Publik Kekhawatiran Internasional. WHO hanya menyatakan wabah itu darurat di China.

Institut Wuhan telah mempelajari virus korona di masa lalu, termasuk jenis yang menyebabkan SARS (Sindrom Pernapasan Akut Parah), virus influenza H5N1, ensefalitis Jepang, dan demam berdarah.

Para peneliti di Institut Wuhan juga mempelajari kuman yang menyebabkan antraks, agen biologis yang pernah dikembangkan di Rusia.

"Virus korona (khususnya SARS) telah dipelajari di institut dan mungkin disimpan di sana. SARS termasuk dalam program senjata biologis China dan diteliti di beberapa tempat terkait," kata Shoham.

Dia menyatakan kemungkinan virus korona termasuk dalam program senjata biologis itu. Ditanya apakah virus korona baru itu mungkin telah lepas, Shoham menjawab, "Pada prinsipnya, infiltrasi virus keluar mungkin terjadi sebagai kebocoran atau infeksi tanpa disadari di dalam ruangan pada seseorang yang secara normal keluar dari fasilitas tersebut. Ini dapat menjadi kasus pada Wuhan Institute of Virology, tapi sejauh ini tidak ada bukti atau indikasi insiden semacam itu."

Shoham menyatakan institut di Wuhan itu satu-satunya lokasi yang dideklarasikan di China yang disebut P4 untuk Pathogen Level 4, status yang mengindikasikan tempat itu menggunakan standar keamanan terketat untuk mencegah penyebaran mikroba paling berbahaya dan paling eksotis yang sedang dipelajari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini