nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Agar Beton Tak Mudah Retak, Adonan Dicampur Bakteri Karbonoklastik

Hairunnisa, Jurnalis · Senin 27 Januari 2020 17:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 27 65 2159038 agar-beton-tak-mudah-retak-adonan-dicampur-bakteri-karbonoklastik-b44cIc6HZo.jpeg Dosen ITS Enny Zulaika Menunjukan Laporan Penelitiannya. (Foto: Okezone.com/Dok. ITS)

JAKARTA - Dinding rumah berbahan dasar beton kerap mengalami keretakan. Salah satu penyebabnya adalah kualitas.

Namun kini telah ditemukan beton ramah lingkungan dengan menambahkan bakteri karbonoklastik dalam adonan beton. Penambahan bakteri karbonoklastik dalam adonan beton dinilai dapat mencegah keretakan pada dinding. Hal itu lantaran bakteri karbonoklastik mengandung kalsium karbonat.

Inovasi ini merupakan temuan Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Dra Enny Zulaika M P. “Kalsium karbonat inilah yang nantinya akan bekerja mencegah keretakan pada dinding,” jelas Dosen Departemen Biologi tersebut seperti dikutip dari laman ITS, Senin (27/1/2020).

Baca Juga: Teliti Kecoak, Peneliti Ini Cek Perilaku Glucose Aversion

Dia menjelaskan, bakteri karbonoklastik menghasilkan karbonat dalam bentuk kristal. Di antaranya kalsit, vaterit, dan aragonit. “Kristal-kristal tersebut nantinya akan menjahit sendiri saat ada dinding yang retak,” bebernya.

Enny berpendapat, kristal kalsit merupakan kristal yang paling baik di antara dua kristal lainnya. Hal tersebut karena bentuk kristal kalsit dinilai stabil. Kestabilan bentuk kristal kalsit inilah yang membuatnya sangat baik untuk menjahit keretakan pada dinding.

“Kristal kalsit juga berfungsi untuk memperkuat beton,” imbuhnya.

Baca Juga: Ilmuan Ini Ciptakan Kopi Imitasi Tanpa Biji

Dosen lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengungkapkan bahwa bakteri karbonoklastik diambil dari daerah pegunungan kapur. Menurutnya, kapur merupakan bahan dasar pembuatan semen, sehingga bakteri yang berasal dari daerah kapur diharap dapat mudah beradaptasi. “Saya sengaja mengambil dari pegunungan kapur agar bakteri mudah beradaptasi dengan bahan baku semen lainnya,” ungkapnya.

Enny menyebutkan ada tiga pegunungan kapur di Jawa Timur yang dipilihnya, di antaranya Gua Akbar di Tuban, Tambang Kapur Suci di Gresik, dan Bukit Jaddih di Bangkalan.

“Lokasi-lokasi tersebut saya pilih karena butuh bakteri yang berasal dari lingkungan ekstrem,” jelasnya.

Enny mengungkapkan, beton dengan tambahan bakteri karbonoklastik ini memiliki kelebihan dibanding beton pada umumnya. Selain ramah lingkungan, ternyata dalam proses pembuatannya juga tidak membutuhkan biaya yang mahal.

“Karena kita mencegah kerusakan, maka butuh biaya yang lebih murah daripada memperbaikinya,” tuturnya.

Dalam penelitiannya, Enny menggandeng beberapa dosen dari Departemen Teknik Sipil ITS. Enny berharap setelah penelitiannya selesai, beton dengan kandungan bakteri ini dapat membantu orang-orang teknik untuk mengatasi dan mencegah masalah keretakan pada dinding.

“Saya harap penelitian ini segera selesai dan bisa diimplementasikan agar dapat dirasakan manfaatnya,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini