nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rakornas Iptek Bersama Presiden Jokowi di Tangsel, Menristek Bahas 5 Isu Strategis

Hambali, Jurnalis · Kamis 30 Januari 2020 17:34 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 30 65 2160792 rakornas-iptek-bersama-presiden-jokowi-di-tangsel-menristek-bahas-5-isu-strategis-JK2dab5vGC.jpg Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro (foto: Okezone)

TANGERANG SELATAN - Presiden Joko Widodo menghadiri Rapat kordinasi nasional (Rakornas) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) tahun 2020 di Gedung Graha Widya Bakti, Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Kamis (30/1/2020).

Dalam kesempatan itu, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro, memaparkan 4 isu strategis dihadapan Jokowi dan pejabat yang hadir.

"Ada beberapa isu strategis pengembangn Iptek dan inovasi yang kita hadapi saat ini. Pertama, pemanfaatan Iptek sebagai penghela pertumbuhan ekonomi yang bekelanjutan," kata Bambang.

Baca Juga: Menristek: Kualitas SDM Developer dan Programer Harus Dikembangkan 

Dijelaskan dia, pemerintah telah membuat target pertumbuhan ekonomi pada range 5,4 sampai 6 persen per tahun. Oleh karena itu, kementeriannya harus memastikan bahwa hasil-hasil riset terhadap segala pengembangan memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Kedua, peningkatan efektivitas pemanfaatan dana Iptek dan inovasi," ucapnya.

Menurutnya, pendanaan bank pemerintah di Indonesia masih di kisaran 0,25 persen dari PDB. Lalu 84 persen di antaranya berasal dari anggaran pemerintah, dan hanya 8 persen yang berasal dari industri.

"Namun anggaran pemerintah ini tersebar pada berbagai unit Litbang, kementerian dan lembaga. Sehingga memungkinkan terjadinya duplikasi dan in-efesiensi," imbuhnya.

Lalu isu strategis ketiga adalah soal rendahnya kapasitas adopsi Iptek dan cipta inovasi di Indonesia. Dikatakannya, Indonesia masih berada di peringkat ke 85 dari 129 negara dengan score Global Innovation Index 29,72 dari skala 0 sampai 100 pada tahun 2019.

"Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya belanja Litbang terhadap PDB, rendahnya jumlah paten, serta rendahnya publikasi sains dan teknik di tingkat global. Selain itu, infrasturuktur Litbang masih terbatas, jumah SDM di bidang Iptek hanya sekitar 14,08 persen, di antaranya yang berkualifikasi doktor atau S3," jelas dia.

Berikutnya isu keempat adalah, soal ekosistem inovasi yang belum sepenuhnya tercipta. Kondisi demikian, membuat proses hilirisasi dan komersialisasi hasil Litbang masih terhambat.

"Kolaborasi triple helix antara pemerintah, dunia penelitian dan dunia usaha, belum didukung atas lembaga Litbang dan perguruan tinggi yang memadai sebagai sumber inovasi teknologi," ungkap Bambang.

Kelima, dalam konteks transformasi ekonomi, kemenristek/BRIN akan fokus Litbang dan hilirisasi yang menghasilkan teknologi tepat guna, subtitusi impor, sekaligus peningkatan TKDM, peningkatan nilai tambah, dan penguasaan teknologi baru.

Baca Juga: Industri Digital Butuh Ahli Coding, Menristek: Kita Dorong 

"Kemenristek/BRIN akan mendorong implementasi program riset nasional dan memastikan setiap aktor riset dan inovasi memahami apa yang harus menjadi fokus dan apa yang harus dikerjakan," tutur dia.

"Dengan hal ini, kita ingin memastikan bahwa riset dan inovasi akan memberikan kontribusi nyata dalam agenda percepatan pertumbuhan ekonomi, penyelesaian permasalahan bangsa, agenda pembangunan yang berkelanjutan, dan agenda kemandirian iptek nasionl," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini