Dana untuk Riset di Indonesia Baru 0,25 Persen dari PDB

Hambali, Okezone · Kamis 30 Januari 2020 22:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 30 65 2160946 dana-untuk-riset-di-indonesia-baru-0-25-persen-dari-pdb-fABFXFAGOr.jpg Ilustrasi

TANGSEL - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, dana untuk riset pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia baru menyentuh angka 0,25 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Ia mengungkapkan, pendanaan bank pemerintah di Indonesia untuk riset masih ada di kisaran 0,25 persen dari PDB. Dari jumlah itu, 84 persen di antaranya berasal dari anggaran pemerintah, dan hanya 8 persen yang berasal dari industri.

"Namun anggaran pemerintah ini tersebar pada berbagai unit Litbang, kementerian dan lembaga. Sehingga memungkinkan terjadinya duplikasi dan in-efesiensi," jelas Bambang dalam Rapat kordinasi nasional (Rakornas) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) tahun 2020 di Gedung Graha Widya Bakti, Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Kamis (30/1/2020).

Baca Juga: Rakornas Iptek Bersama Presiden Jokowi di Tangsel, Menristek Bahas 5 Isu Strategis

Sebagai pembanding, dana penelitian di tiga kekuatan ekonomi teratas dunia, yakni Amerika Serikat, Tiongkok dan Jepang, adalah lebih dari 2 persen dari total PDB.

Padahal riset dan penelitian ilmu pengetahuan masuk dalam jangka menengah dan panjang pemerintah Indonesia, untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai ekonomi maju pada tahun 2045.

Presiden Widodo menekankan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mendukung penelitian dan inovasi yang merupakan faktor kunci untuk pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Sementara itu, Wakil Duta Besar Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, Allaster Cox menyatakan bahwa Australia senang melihat komitmen Pemerintah Indonesia untuk riset dan pengembangan.

Allaster Cox

Menurut Cox, komitmen itu terlihat dari adanya Undang-Undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek), pembentukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Dana Abadi Penelitian.

“Reformasi ini penting untuk transisi Indonesia ke ekonomi berbasis pengetahuan dengan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh transfer dan produk iptek,” kata Wakil Duta Besar Cox dalam sesi fokus “Penelitian: Sumber Pertumbuhan Ekonomi” pada Indonesia Data and Economic Conference (IDE Katadata 2020).

Selain itu, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti mengungkapkan Investasi di bidang riset dan pengembangan, merupakan pendorong penting bagi pertumbuhan ekonomi.

Maka dukungan untuk penelitian dan inovasi dalam kebijakan pembangunan nasional esensial untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai tambah.

Sesi fokus ini berharap, pemerintah dan industri dapat mendukung pengembangan riset dan inovasi sebagai agenda bersama. Namun, tetap harus menekankan pentingnya aspek sosial dan lingkungan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini