nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Ditanggung BPJS dan Jasa Raharja, Korban Klitih Ini Tanggung Biaya Berobat Sendiri

Kuntadi, Jurnalis · Kamis 06 Februari 2020 19:19 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 06 510 2164512 tak-ditanggung-bpjs-dan-jasa-raharja-korban-klitih-ini-tanggung-biaya-berobat-sendiri-qx6Bhhrwnp.jpg Korban Klitih asal Gunungkidul terpaksa berobat sendiri (Foto: Ist)

GUNUNGKIDUL – Seorang warga Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Pendiyanto (24) menjadi korban kekerasan di jalanan (klitih).

Korban menderita luka sabetan pedang oleh orang yang tidak dikenal ketika melintas di Jalan Kabupaten Sleman, pada Senin (6/2/2020) dinihari.

Korban mendapatkan perawatan medis dengan 17 jahitan pada lengannya, tanpa bisa di-cover dengan jaminan kesehatan (BPJS) ataupun Jasa Raharja.

Pendiyanto merupakan warga Dusun Dondong, Desa Jetis, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Dia baru sekitar dua bulan bergabung sebagai pengemudi ojek online.

Musibah ini dialami korban usai menyantap malam bersama tiga orang rekannya. Saat itu mereka menggunakan dua sepeda motor dan berboncengan. Ketika hendak pulang, dan melintas di Jalan Kabupaten Sleman, mereka berpapasan dengan pengendara sepeda motor dari arah berlawanan. Tanpa ada permasalahan, tiba-tiba pelaku mengayunkan pedang dan mengenai lengan tangannya.

Baca Juga: Jadi Korban Klitih, Driver Ojol Terluka Disabet Senjata Tajam

“Posisi saya dionceng. Teman saya yang di depan berhasil menghindar dan mengenai lengan tangan kanan saya,” jelas Pendiyanto, kepada wartawan, Rabu (5/2/2020).

Akibat sabetan pedang ini, korban mengalami luka robek pada lengan kanan. Oleh teman-temannya, dilarika ke rumah sakit dan mendapatkan 17 jahitan. Selain luka robek, tulang tangannya juga retak.

“Begitu menyabetkan, pelaku langsung kabur,” jelasnya.

Pendiyanto mengatakan, akibat serangan klitih ini dirinya tidak bisa lagi bekerja. Sementara untuk pengobatan harus ditanggung sendiri. Jaminan kesehatan (BPJS) ataupun Jasa Raharja tidak bisa diproses karena kaitannya dalam perkara kriminal. Kasus ini juga tidak dilaporkan kepada pihak kepolisian.

“Tiga hari sekali harus kontrol untuk memulihkan tulang yang retak,” jelasnya.

Dia berharap permasalahan ini, bisa memberikan solusi atas permasalahan yang muncul. Apalagi dalam perkara ini dia benar-benar menjadi korban dan tidak bisa bekerja.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini