Beratnya Beban Erik, Yatim yang Jadi Tulang Punggung Keluarga di Usia Dini

Sigit Dzakwan, iNews.id · Jum'at 06 Maret 2020 14:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 06 340 2179162 beratnya-beban-erik-yatim-yang-jadi-tulang-punggung-keluarga-di-usia-dini-FZaadRxUkD.JPG Erik harus banting tulang mencukupi hiduo ia dan ibunya (Foto: Sigit)

KOTAWARINGIN BARAT - Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah, peribahasa ini yang sering kita dengar. Namun, kasih sayang anak kepada orangtuanya juga kadang bisa melebihi apa yang diperkirakan.

Hal itu terlihat dari kisah si yatim Erik Budi Kriswanto (18), pelajar kelas 2, Madrasah Aliyah (MA) Babussalam, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah.

Ia harus rela banting tulang untuk menafkahi ibunya seorang diri yang tergolek lemah di kamar kos reot di Jalan Pelita, Desa Candi, Kecamatan Kumai.

Erik adalah anak tunggal dari sang ayah yang sudah almarhum dan ibu Suliyani (50). Mereka merupakan warga pendatang dari Pulau Jawa sejak 2009 lalu. Namun sejak sang ayah meninggal pada 2010, Erik kecil yang kini sudah mulai remaja sudah menjadi tulang punggung keluarga terutama sang ibu.

“Sebelum 2009, saat saya masih kecil, kami (ayah dan ibu) sempat merantau ke Kalbar dari Pulau Jawa dan akhirnya kami pindah ke Kumai, Kobar, Kalteng. Namun tak berapa lama ayah meninggal pada 2010. Dulu ayah kerja sebagai penjaga karcis kapal di pelabuhan kumai. Ibu menjadi pedagang asongan di pelabuhan,” ujar Erik dengan mata berkaca-kaca di rumah kos reot di Desa Candi saat ditemui Kamis 5 Maret.

Pada saat sang ayah meninggal pada 2010. Ia kemudian hidup susah bersama sang ibu sambil berjualan asongan di pelabuhan. Waktu terus berjalan, Erik dan sang ibu hidup di bawah garis kemiskimam dan serba kekurangan.

Ditambah lagi pada tahun 2018 sang ibu mulai sakit dan akhirnya hanya bisa berbaring lemah di atas ranjang di kamar kosnya.

“Dokter bilang dulu darah tinggi. Tapi setelah ke sini malah ibu tidak bisa bangun dari ranjang. Sejak itulah saya berjuang hidup sendiri, namun saya tetap sekolah dan sekarang sudah kelas 2 MA," ungkapnya.

Setiap hari, Erik datang lebih pagi ke sekolah dan membantu membersihkan sampah di sekitar gedung tempatnya menuntut ilmu. Hal itu dilakukan dengan kesadaran sendiri, karena Erik setiap bulannya diberi santunan oleh para guru yang iba dengannya.

Saat dirinya sekolah, dari pukul 06.00 WIB-14.00 WIB, sang ibu ditinggal di rumah. Para tetangga yang iba terkadang ikut menjaga ibunya saat ia sekolah.

“Saya harus tetap kuat menjalani hidup ini, karena saya tiap bulan harus memikirkan bayar kamar kos sebesar Rp200 ribu," jelasnya

"Untung saya sekolah digratiskan. Untuk makan sehari hari selama dua tahun terakhir banyak dibantu warga yang iba,” akunya.

Saat ini Erik dan sang ibu tinggal di kamar kos ukuran 3x6 meter yang terbuat dari kayu yang sudah lapuk di Jalan Pelita, Desa Candi, Kecamatan Kumai.

Kisah Erik ini sempat viral di media sosial (sosmed) setelah warga mengunggahnya. Setelah viral, banyak warga yang silih berganti mendatangi kamar kos mereka untuk membantu berupa barang kebutuhan pokok dan juga uang.

“Bahkan kemarin sudah ada yang membayarkan kamar kos kami untuk setahun ke depan. Kami juga diminta pindah ke kos yang lebih layak. Tapi ibu tidak mau karena sudah betah di sini,” jelasnya.

Erik berjanji akan menjadi anak yang baik dan terus berbakti kepada sang ibu sampai akhir hayat. “Setahun lagi saya lulus sekolah. Nanti saya akan tetap menjaga ibu dan mencari pekerjaan di sekitar sini saja. Yang penting tidak jauh dari ibu," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini