Bermodal Rumput Teki, Dosen UMS Temukan Spesies Baru Bakteri Streptomyces

Bramantyo, Okezone · Minggu 08 Maret 2020 15:59 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 03 08 65 2180064 bermodal-rumput-teki-dosen-ums-temukan-spesies-baru-bakteri-streptomyces-QHqH0q6cYs.jpg (Foto: Okezone.com/Bramantyo)

SUKOHARJO - Siapa sangka rumput teki atau dalam bahasa Jawa disebut suket teki bisa jadi spesies baru bakteri streptomyces. Di tangan seorang peneliti yang juga dosen Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Ambarwati, rumput yang ngetop setelah jadi judul lagu Didi Kempot ini ternyata memiliki enam isolat streptomyces yang berpotensi menghasilkan antibiotik.

Dari enam isolate, berdasarkan sekuen gen 16S rRNA. ada dua yang berpotensi sebagai spesies baru. Temuannya ini sekaligus kado istimewa di Hari Perempuan Internasional yang jatuh Minggu 8 Maret 2020 ini.

Ambarwati mengatakan spesies streptomyces baru yang ditemukannya ini, berpotensi menghasilkan antibiotik serta senyawa yang dapat mengatasi resistensi bakteri patogenik terhadap antibiotik.

"Temuan ini berawal dari ketidaksengajaan saya. Awalnya, saya hanya berpikiran yang penting cepet lulus kuliah S3 saja. Lah, pas saya teliti rumput teki ini, kok ada kandungan tersendiri di rumput teki ini. Karena itulah saya tertarik meneliti streptomyces ini, karena dia bakteri yang menghasilkan banyak bioaktif terutama antibiotik," kata Ambarwati saat menunjukan temuannya pada Okezone, Minggu (8/3/2020).

(Foto: Okezone.com/Bramantyo)

Dosen UMS yang meraih gelar Doktor Biologi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut menemukan bakteri baru tersebut dari rhizosfer rumput teki yang hidup di kawasan Cemoro Sewu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Sebenarnya, ungkap Ambarwati, rumput teki ini bisa diambil di mana saja. Namun rumput teki yang hidup di Cemoro Sewu, Gunung Lawu kandungannya senyawa biotik yang lebih bagus dibandingkan di tempat lain.

Baca juga: Ada 23 Orang Suspect Virus Korona di Indonesia, 4 Pasien Positif Covid-19

"Rumput teki ini diambil dari lokasi pegunungan tepatnya di Cemoro Sewu yang berada di ketinggian Gunung Lawu. Yang merupakan salah satu tempat ekstrem yang memiliki suhu, kelembaban yang berbeda dengan tempat lain," ucapnya.

(Foto: Okezone.com/Bramantyo)

Dalam penelitian yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun itu, Ambar menjelaskan bakteri yang diambil bukan dari rumput tekinya. Namun dari bakteri yang tumbuh di tanah yang menempel di akar rumput teki.

Temuan bakteri streptomyces cemorosewuensis ini menghasilkan 2 zat atau senyawa yaitu Malasidin, senyawa yang bisa menghambat bakteri patogen yang sudah multidrug resistant dan Geosmin, senyawa yang dengan hanya kadar 5ppm saja sudah bisa memiliki kontribusi yang besar.

Bakteri streptomyces ini bisa memakan waktu 1 minggu sampai 1 bulan untuk bisa berkembang, berbeda dengan bakteri pada umunya yang dalam 24 jam sudah bisa berkembang banyak. Saat ini dirinya tengah mengajukan spesies baru bakteri itu dengan nama Stretomyces Cemorosewuensis sp. Nov.

"Saat ini sekuen hasil WGS dari spesies baru ini sedang dalam proses submit ke NCBI (National Center For Biotechnology Information) untuk mendapatkan accession number," terangnya lebih lanjut.

Ambarwati berharap hasil temuannya ini setelah di murnikan bisa ditindaklanjuti oleh teman-teman dari farmasi, juga di penelitian terapan.

"Semoga temuan ini bisa dilanjutkan oleh teman-teman dari farmasi atau kedokteran. Sebab temuan ini sudah bisa menghasilkan antibiotik itu yang baru bisa dimanfaatkan oleh masyarakat secara langsung," pungkasnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini