Program Merdeka Belajar, Sekolah di Tangsel Antusias Jalani UN Terakhir

Hambali, Okezone · Senin 09 Maret 2020 17:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 09 65 2180602 program-merdeka-belajar-sekolah-di-tangsel-antusias-jalani-un-terakhir-giinGKOIpO.jpg Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel (foto: Okezone/Hambali)

TANGERANG SELATAN - Gebrakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menghapus Ujian Nasional (UN) melegakan banyak pihak. Terutama siswa, orang tua, guru, dan sekolah. Mereka tak lagi terbebani dengan standarisasi syarat kelulusan itu.

Melalui ketentuan UN, semua siswa tak lagi dinilai dari kemampuan personalitinya, melainkan akan dipatok pada standar ujian tersebut. Hal demikian dianggap membuat suasana belajar menjadi tegang dan monoton.

Baca Juga: Menerapkan 'Kampus Merdeka' Menteri Nadiem, UT Kejar Status PTN-BH 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Tangsel, Taryono menyebut, sistem UN menjadikan siswa terbelenggu karena persepsi yang dibangun adalah UN segalanya bagi mereka. Tak ada kegembiraan yang muncul manakala UN digelar.

"UN itu dianggap sebagai segalanya, sehingga semua tegang. Siswanya, gurunya apalagi, orang tua siswa, semuanya. Bahkan orang yang beriman sekalipun hilang kepercayaan, karena apa? karena tidak lagi bersandar kepada tuhan, kepada Allah, tapi bersandar pada UN," ungkap Taryono dalam acara "Auliya Achievement Review" di Gedung Titan Centre, Bintaro, Tangsel.

Bahkan kata Taryono, suasana tidak bahagia itu benar-benar meruntuhkan potensi-potensi yang dimiliki para siswa. Tak sedikit dari mereka yang gagal lulus disebabkan nilai UN tak tercapai. Dampak terparah, UN bisa menjatuhkan mental belajar itu sendiri.

"Itulah hebatnya hantu Ujian Nasional. Begitu menakutkan, dan tidak membuat suasana belajar menjadi bahagia. Mas Menteri kita sangat mengucapkan terimakasih atas kebijakan Merdeka Belajar ini," ungkapnya.

Lebih lanjut, Taryono membeberkan, bahwa suasana itu harus dirubah dengan diberlakukannya Merdeka belajar. Tahun ini, UN adalah kali terakhir diselenggarakan. Karena tahun berikutnya, semua dikembalikan ke masing-masing sekolah dalam bentuk Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

"Merdeka belajar itu adalah kebijakan pemerintah pusat yang salah satu intinya sekolah itu baik, guru, siswa dan orang tua siswa, tidak lagi stress dan tegang. UN tahun ini yang terakhir, tahun depan sudah tidak ada lagi," jelasnya.

Empat program pokok kebijakan pendidikan Merdeka Belajar yaitu, Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), UN, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

Sementara seluruh siswa Auliya yang berjumlah sekira 1.000-an siswa bersiap melaksanakan ujian sekolah dan UN. Meski tahun ini UN terakhir, namun keseriusan tetap dipupuk bagi semua siswa, terutama kalangan SMA yang sebentar lagi memulai tahapan UN.

"Para siswa, orang tua siswa, lebih antusias menyiapkan diri di tahun ajaran berikutnya, tidak lagi belajar seperti tahun-tahun sebelumnya melalui UN. Kata Merdeka Belajar itu bermakna para siswa lebih merdeka untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya masing-masing. Mereka punya kemerdekaan untuk itu," ucap Triwisaksana, Ketua Yayasan Auliya Insan Utama.

Baca Juga: Kampus Merdeka Nadiem Makarim, Rektor UGM: Banyak Harus Dibenahi 

Menurut dia, para siswa terlihat lega menyambut dihapusnya UN. Tak ada lagi standarisasi nilai mata pelajara, karena penilaian itu diserahkan ke pihak sekolah. Baik dalam bentuk ujian praktek, karya tulis, portofolio, dan sebagainya. Demikian pula untuk syarat kelulusan yang lebih mengacu pada konteks kompetensi, karakter, dan skill.

"Semua dikembalikn ke sekolah, jadi tidak ada ranking kelas. Karena kalau ranking itu bagi yang juara pertama tentu bangga, lalu bagaimana dengan psikologis siswa yang juara 30? tentu penilaiannya tidak bisa disamaratakan seperti itu, karena masing-masing siswa punya potensi berbeda," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini