Kementan Siap Kembangkan 10 Ribu Hektare Padi Kaya Gizi

Wilda Fajriah, Okezone · Selasa 17 Maret 2020 10:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 17 1 2184492 kementan-siap-kembangkan-10-ribu-hektare-padi-kaya-gizi-EFff6OeqkX.jpg Foto: Kementan RI

JAKARTA - Antisipasi penanganan stunting salah satunya dapat dengan pengembangan padi biofortifikasi. Biofortifikasi pada padi dilakukan dengan perakitan varietas padi sehingga menghasilkan padi yang kaya gizi.

Dr. Untung Susanto, pemulia padi dari Balai Besar PADI menjelaskan bahwa salah satu hasil biofortifikasi tersebut adalah padi varietas Inpari IR Nutri Zinc yang mengandung Zn sebanyak 29,54 ppm, lebih tinggi 7 ppm dibandingkan kandungan Zn dalam Ciherang.

1

Kementerian Pertanian tahun ini mulai melakukan kegiaan biofortifikasi seluas 10 ribu hektare di 9 provinsi. Bambang Sugiharto, Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan menyebutkan kegiatan tersebut akan dilaksanakan di memiliki kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi, demikian disampaikan Bambang Sugiharto (Direktur Serealia) dalam beberapa kesempatan.

Sembilan provinsi tersebut adalah Riau, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, NTB, Gorontalo, Maluku dan Papua.

“Bahkan bila memungkinkan, kegiatan akan diperluas tidak hanya untuk 10 ribu hektare dan meningkat setiap tahunnya, sehingga pada 2024 akan tertanam lebih dari 200 ribu hektare,” tambah Bambang.

Menurut Bambang, salah satu titik kritis dalam pengembangan padi biofortifikasi ini adalah ketersediaan benih sumber, terlebih hingga saat ini hanya ada satu varietas padi yang tersedia untuk mendukung penurunan angka stunting, yaitu varietas Inpari IR Nutri Zinc.

“Menindaklanjuti hal tersebut kami lakukan workshop penyediaan dan pemanfaatan benih padi biofortifikasi. Maksudnya supaya dapat menghubungkan antara sumber benih, penangkaran benih dan wilayah pengembangan,” ujar Bambang.

Terkait penyediaan benih, Dinas Kasubdit Padi Tadah Hujan dan Lahan Kering menyebut benih sumber di BB PADI telah didistribusikan ke beberapa produsen benih dan BPTP.

“Nanti Maret dan April di Jawa Tengah telah siap masing-masing 35 ton benih Inpari IR Nutri Zinc yang dapat digunakan di lahan seluas 2.800 hektare, di Kalimantan Barat telah siap 9 ton untuk penanaman seluas 360 hektare dan di Lombok Timur siap untuk di tanam di lahan seluas 100 hektare. Secara keseluruhan, untuk penanaman 10 ribu hektare benih label biru akan siap untuk penanaman di bulan Juni – September 2020 dan disiapkan pula benih untuk tahun 2021,” lanjut Dina.

Dengan bantuan pemerintah berupa benih, pupuk dan pestisida, maka penanaman minimal 10 ribu hektar padi biofortifikasi untuk mengatasi stunting akan sukses terlaksana sehingga dihasilkan beras dengan kandungan Zn yang tinggi. Selanjutnya, Dina berharap beras yang dihasilkan harus dapat dikonsumsi oleh masyarakat di daerah stunting, melalui sinkronisasi dengan program bantuan kementerian lain.

Sebagai informasi Kerdil (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak Balita (Bawah 5 Tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi kronis ini, khususnya mineral seng (Zinc/Zn) terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya. Situasi ini jika tidak diatasi dapat mempengaruhi kinerja pembangunan Indonesia baik yang menyangkut pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan ketimpangan. (cm)

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini