Uni Eropa Tutup Perbatasannya Bagi Warga Asing di Tengah Krisis COVID-19

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 18 Maret 2020 12:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 18 18 2185180 uni-eropa-tutup-perbatasannya-bagi-warga-asing-di-tengah-krisis-covid-19-GdsEW5mS4g.jpg Foto: Okezone.

BRUSSELS - Uni Eropa (UE) akan memberlakukan larangan masuk selama 30 hari bagi pelancong dari negara-negara di luar blok ekonomi itu, dalam upaya menghadapi pandemi virus corona (COVID-19) yang meluas. Langkah penutupan perbatasan ini adalah yang pertama kalinya dilakukan sepanjang sejarah UE.

Langkah tersebut diharapkan berlaku untuk 26 negara Uni Eropa serta Islandia, Liechtenstein, Norwegia dan Swiss. Warga negara Inggris tidak akan terpengaruh.

Larangan itu diumumkan di saat jumlah kematian di Italia, Spanyol menunjukkan lonjakan yang signifikan, sementara Prancis memberlakukan penguncian (lock down) yang ketat.

Larangan perjalanan tersebut akan memengaruhi semua warga negara non-UE untuk mengunjungi blok ekonomi itu, kecuali penduduk jangka panjang, anggota keluarga warga negara Uni Eropa dan diplomat, pekerja lintas batas dan layanan kesehatan, dan para pengangkut barang.

Perjalanan bebas adalah prinsip yang dihargai di wilayah Schengen bebas perbatasan Eropa. Tetapi dalam beberapa hari terakhir banyak negara secara sepihak memberlakukan penutupan perbatasan penuh atau sebagian dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Langkah-langkah tersebut mendorong komisi Eropa untuk mengusulkan agar blok itu bertindak dengan cara yang lebih bersatu dan membatasi masuk pengunjung ke wilayah UE secara keseluruhan. Kebijakan itu diambil atas desakan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

"Mereka mengatakan akan segera melakukan itu," kata Ketua Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen pada konferensi pers sebagaimana dilansir BBC, Rabu (18/3/2020). "Ini bagus, sehingga kita memiliki pendekatan dengan suara bulat dan bersatu (di mana) perbatasan eksternal diperhatikan."

Eropa telah menerima pukulan keras akibat wabah yang telah menewaskan sedikitnya 7.500 pasien di seluruh dunia itu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih 185.000 orang telah dikonfirmasi terinfeksi COVID-19, sebagian besar berada di China.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini