Dengarkan Usulan Jepang, Kamboja Pilih Energi Batu Bara & Tinggalkan PLTA

Medikantyo, Okezone · Rabu 18 Maret 2020 23:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 18 18 2185556 dengarkan-usulan-jepang-kamboja-pilih-energi-batu-bara-tinggalkan-plta-WLbWWyLUEy.jpg Ilustrasi bendungan PLTA (Foto: Okezone.com/pool)

PHNOM PENH - Kamboja menunda keinginan membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) baru dengan membendung aliran Sungai Mekong, selama 10 tahun ke depan. Sebagai pengganti, negara tersebut akan mempelajari kemungkinan sumber energi lain seperti menggunakan batu bara, gas alam, maupun berbasis tenaga surya.

Langkah itu diambil terlepas situasi krisis energi yang melanda negara tersebut belakangan ini. Kebijakan untuk mengembangkan sumber tenaga baru hingga 2030, disebut Kementerian Pertambangan dan Energi Kamboja dilakukan dengan mempertimbangkan saran perusahaan konsultan asal Jepang.

"Berdasarkan laporan tersebut kami perlu memanfaatkan sumber energi seperti batu bara, gas alam, serta tenaga surya. Selain itu ada kemungkinan untuk mengekspor sumber daya energi dari negara lain," ujar Direktur Jenderal Energi di Kementerian Pertambangan dan Energi Kamboja, Victor Jona, seperti dilansir dari laman Reuters pada Rabu (18/3/2020).

Aliran utama Sungai Mekong memang menjadi solusi mudah serta favorit sejumlah negara untuk menjadi sumber energi utama. Dua proyek bendungan besar bahkan baru-baru ini diresmikan oleh negara tetangga, Laos, dalam kurun waktu enam bulan terakhir.

Energi listrik dari proyek itu juga akan dijual ke Kamboja oleh Laos melalui kesepakatan selama 30 tahun. Kamboja memang memenuhi 25 persen kebutuhan listriknya dari kesepakatan impor langsung dari fasilitas negara lain termasuk Vietnam dan Thailand. Sedangkan listrik dari PLTA domestik hanya memenuhi kebutuhan 48 persen permintaan energi Kamboja.

Sungai terbesar di Asia Tenggara itu menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 60 juta penduduk yang tinggal di area dataran rendah sekitarnya. Alirannya melewati negara seperti Kamboja, Laos, Thailand, Myanmar, dan Vietnam untuk dimanfaatkan mengaliri lahan pertanian serta menjadi tambak skala kecil.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini