nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Raja Tinggal di Jerman saat Pandemi Covid-19 Picu Kemarahan Publik Thailand

Rachmat Fahzry, Okezone · Senin 23 Maret 2020 12:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 03 23 18 2187574 raja-tinggal-di-jerman-saat-pandemi-covid-19-picu-kemarahan-publik-thailand-NA7DJDUv6f.jpg Raja Vajiralongkorn. (Foto/Pattaya Mail)

BANGKOK – Warganet Thailand marah karena raja mereka memilih tinggal di Jerman saat penyebaran virus corona terus meningkat di negara itu

Tagar berbahasa Thai yang bila diterjemahkan menjadi #whydoweneedaking? (mengapa kita butuh raja) menjadi trending topic di Twitter di Thailand. Pemicunya setelah seorang aktivis Thailand di luar negeri memposting Raja Maha Vajiralongkorn berada di Jerman selama krisis Covid-19.

Raja Vajiralongkorn (67) yang naik takhta pada tahun lalu, memiliki rumah kedua di Jerman. Dia menghabiskan banyak waktunya di luar Thailand.

Baca juga: 1.700 Kematian, Spanyol Sedang Berperang Melawan Virus Corona

Baca juga: Trump Tawarkan Bantu Korea Utara Atasi Pandemi Corona

Jumlah kasus infeksi virus corona di Thailand meningkat 14 kali lipat selama bulan Maret menjadi 599 kasus, jumlah tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Malaysia, menurut data resmi yang diumumkan oleh otoritas kesehatan nasional. Satu orang telah meninggal.

Tagar yang mempertanyakan monarki digunakan lebih dari 1,2 juta kali dalam 24 jam pada hari Minggu, menurut data di Twitter berdasarkan tren tagar untuk pengguna di Thailand.

Hal ini sangat langka, karena mengkritik monarki Thailand adalah kejahatan dan dapat dihukum penjara 15 tahun.

Istana Kerajaan Thailand tidak menanggapi permintaan komentar pada posting.

Namun Menteri Ekonomi Digital dan Masyarakat Thailand Puttipong Punnakanta memposting peringatan kepada warga agar tidak melanggar undang-undang. Unggahan disertai dengan gambar tangan diborgol di atas keyboard.

"Saya lebih suka tidak berkomentar," katanya mengutip Reuters, Senin (23/3/2020).

“Kami memantau sebanyak yang kami bisa. Kami menghormati ekspresi diri, tetapi jika itu menyebabkan keresahan, kami akan menjalankan hukum," lanjutnya.

Ketika ditanya apakah pemerintah akan mengambil tindakan atas kritik warga, juru bicara pemerintah Narumon Pinyosinwat mengatakan situasinya sedang dipantau, tetapi tindakan pemerintah konsultasi terlebih dahulu dengan lembaga keamanan.

Di antara yang pertama menggunakan tagar adalah Somsak Jeamteerasakul. Dia memposting pada Sabtu 21 Maret bahwa raja bepergian di Jerman.

Thailand adalah negara pertama di luar China yang mencatat kasus virus pada Januari, tetapi hanya melaporkan 42 infeksi sebelum awal Maret, menurut pernyataan dari Kementerian Kesehatan Masyarakat.

Ketika kasus-kasus meningkat, langkah-langkah kontrol yang lebih ketat telah diberlakukan. Termasuk siapa pun yang bepergian dari luar negeri, termasuk warga negara Thailand, memerlukan surat perjalanan khusus untuk terbang ke negara itu.

Pemerintah provinsi mengumumkan pada Sabtu bahwa Bangkok akan menutup mal selama 22 hari tapi supermarket akan diizinkan tetap buka. Bar di kota akan ditutup, seperti halnya sekolah.

Thailand telah menjadi monarki konstitusional sejak 1932 yang mengakhiri pemerintahan kerajaan absolut, tetapi monarki tetap menjadi bagian sentral dari budaya tradisional Thailand. Beberapa orang Thailand menganggap raja sebagai utusan ilahi.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini