nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bantu Atasi Virus Corona, ITS Produksi Face Shield Mask

Rani Hardjanti, Okezone · Rabu 25 Maret 2020 15:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 03 25 65 2188824 bantu-atasi-virus-corona-its-produksi-face-shield-mask-n3jE91e0Xc.jpeg Face Shiled Mask. (Foto: ITS.ac.id)

JAKARTA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memperkenalkan salah satu alat pelindung diri (APD) berupa Face Shield Mask yang diproduksi sendiri. Alat ini disebut bisa membantu penekanan penyebaran corona virus disease (Covid-19).

Kepala Laboratorium Integrated Digital Design Departemen Desain Produk Industri ITS Djoko Kuswanto ST, yang juga inventor, mengungkapkan panic buying menjadi salah satu bentuk respons masyarakat terhadap merebaknya Covid-19.

"Dunia medis pun ikut terguncang dengan berkurangnya APD akibat panic buying yang sebetulnya sangat dibutuhkan tenaga medis," tutur Djoko, dikutip dari situs resmi ITS, Rabu (25/3/2020).

Dia mengatakan, target produksi dari Face Shield Mask mencapai 500 sampai 1.000 unit setiap hari. Jumlah APD yang kian menurun inilah, menurut Djoko, yang menggugah ITS bersama Asosiasi Printer 3D Indonesia ikut memberikan bantuan APD dengan memproduksi Face Shield Mask.

Djoko yang juga Koordinator Asosiasi Printer 3D Indonesia Chapter Jatim menjelaskan bahwa Face Shield Mask dipilih karena mudah dibuat dengan estimasi waktu pembuatan yang terbilang cepat. "Apalagi masker menjadi kebutuhan yang mendesak saat ini," ungkapnya.

Berdasarkan data yang diterima Laboratorium Integrated Digital Design ITS, saat ini kebutuhan masker mencapai 270.000 unit. Didukung fakta tersebut, Djoko menuturkan bahwa akan ada dua jenis prosedur produksi yang diterapkan. Tujuannya adalah efisiensi kerja produksi.

Metode 3D Printing, kata dia, menjadi opsi pertama. "Cara kerjanya adalah dengan menata bahan berupa lelehan sehingga menjadi benda yang dikonsepkan," terangnya menyederhanakan cara kerja 3D Printing.

Info grafis virus corona (Covid-19). (Foto: Okezone)

Kelebihan metode 3D Printing sendiri, menurut Djoko, yaitu barang dapat terproduksi lebih detail sesuai rancangan. Akan tetapi untuk kondisi gawat seperti saat ini 3D Printing membutuhkan waktu produksi yang cenderung lama. Maka itu, lanjut dia, alat yang dikenal dengan CNC Router menjadi opsi untuk mengatasi hal tersebut.

CNC Router merupakan mesin yang dilengkapi Digital Signal Processing (DSP) dalam proses memotong atau mengukir suatu bahan tertentu. Secara singkat, Djoko menuturkan bahwa sistem kerja dengan CNC Router adalah substractive atau dengan melakukan pengurangan.

"Dari bahan yang utuh, bahan diukir sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang diinginkan," bebernya.

Dengan menggunakan bantuan CNC Router, bekerja sama dengan Laboratorium Protomodel ITS, kecepatan produksi Face Shield Mask diharapkan dapat segera memenuhi kebutuhan, khususnya di Jawa Timur dengan permintaan yang telah mencapai 35.000 unit.

Djoko menyebut satu CNC Router memiliki kecepatan produksi hampir sama dengan 200 sampai 400 cetakan sekaligus. "CNC Router kemudian kami pilih sebagai cara yang diprioritaskan," ujarnya.

Dari dua prosedur yang diterapkan, diambil juga dua bahan yang menjadi komposisi satu jenis dari APD ini.

Pendiri Rumah Prototesis Indonesia ini mengatakan digunakan dua jenis plastik untuk membuat Face Shield Mask ini yaitu plastik High Density Polyethylene (HDPE) dan Polyethylene terephthalate (PET). Masker darurat itu pun harus diproduksi dengan memerhatikan keamanan bahan yang digunakan.

Kedua plastik yang dipilih, menurut Djoko, adalah jenis yang aman digunakan, termasuk untuk kepentingan medis. Pasalnya dua jenis plastik itu juga dapat digunakan sebagai pengemas bahan pangan.

Selain itu, baik plastik HDPE maupun PET sama-sama mudah ditemukan di pasaran. "Kemudahan ini begitu mendukung proses produksi di tengah anjuran untuk social distancing," sebutnya.

Ketika ditanya soal distribusi produk, Djoko menyampaikan masker ini hanya diperuntukkan bagi lembaga klinis yang membutuhkan. Ia menyebutkan pembagian yang tanpa biaya tersebut memiliki alur prosedur distribusi tidak sembarangan.

"Kami tidak ingin ada kesalahan penyaluran kepada yang kurang membutuhkan," tegasnya.

Tim yang ada terbagi menjadi empat divisi, yaitu pendataan permintaan, produksi, perakitan, dan distribusi. Hal itu merupakan salah satu bentuk upaya mencegah terjadinya kesalahan dalam penyaluran masker gratis ini.

Info grafis virus corona (Covid-19). (Foto: Okezone)

Mengikuti rekomendasi dari jajaran Dekanat Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital ITS, permintaan yang akan diproses adalah yang mengikuti alur pemesanan kebutuhan.

Bagi lembaga klinis yang ingin mengajukan permintaan kebutuhan, alur yang harus ditempuh adalah menyiapkan surat permintaan resmi dan melampirkannya bersama formulir daring yang disediakan. Detail dari prosedur dapat diketahui melalui narahubung tim penggerak produksi Face Shield Mask, termasuk Djoko sendiri.

Djoko pun meminta doa dan dukungan serta partisipasi siapa saja yang tergerak untuk ambil bagian sebagai relawan dalam proses produksi ini.

"Akan ada pelatihan yang terkoordinasi bagi relawan sehingga social distancing tidak jadi halangan untuk mengupayakan keberhasilan mencapai target produksi yang tinggi," jelasnya.

Salah satu yang disebut sebagai partner produksi APD ini adalah 20 mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Harapannya dengan banyak menjalin kerja sama, produk yang perlu disterilisasi dan uji kelayakan ini semakin bermutu dan terjamin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini