nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sosiolog Minta Pemerintah Waspadai Dampak Sosial Imbas Wabah Corona

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 31 Maret 2020 00:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 03 30 519 2191495 sosiolog-minta-pemerintah-waspadai-dampak-sosial-imbas-wabah-corona-rAAWVs3FUG.JPG Ilustrasi (Foto: Okezone.com)

MALANG - Upaya pemerintah mengatasi merebaknya wabah virus corona (Covid-19) dengan melakukan pembatasan sosial hingga karantina wilayah, dinilai dapat menimbulkan dampak sosial lainnya di kemudian hari bila tak segera diantisipasi.

Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rachmad Dwi Susilo mengatakan, sejauh ini ia menilai pemerintah belum memperhitungkan dampak sosial di masyarakat, bilamana pembatasan sosial hingga karantina wilayah guna membatasi pergerakan orang mencegah penyebaran corona.

"Yang menjadi problem dari negara yang melakukan lockdown dan karantina wilayah itu ada jaminan, ketika dia work from home, makanannya ditanggung pemerintah. Ketika pekerjaan itu bukan pekerjaan rumahan, tidak semua pekerjaan itu bisa dikerjakan dari rumah, ojek online dan penjual bakso contohnya, itu orang yang di luar kerjanya tidak bisa mengandalkan work from home," tutur Rachmad, kepada Okezone, Senin (30/3/2020).

Ketua Program Studi (Prodi) Sosiologi UMM ini menyayangkan belum ada kompensasi bagi mereka yang kehilangan 'pemasukan', sehingga ia khawatir akan muncul gejolak sosial di kemudian hari.

Infografis COVID-19

"(Masyarakat yang tidak bisa kerja dari rumah) Dia harusnya dijamin kalau tidak kemana-mana dengan social distancing di rumah pun akan dikasih makan (oleh pemerintah)," ucapnya.

Ia menambahkan, persoalan sosial imbas merebaknya pandemi corona adalah yang terpenting untuk diantisipasi.

"Yang dikhawatirkan adalah memperparah persoalan sosial yang sudah ada selama ini, jadi persoalan yang ada belum teratasi, akan semakin bisa diakumulasi dengan persoalan sebagai dampak sosial penyebaran virus corona. Saya takutnya kalau orang sudah lapar, tidak ada yang dimakan. Sementara aturan hukum tidak kuat ditegakkan, yang terjadi kan chaos," jelas pria yang juga Ketua Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) Malang raya ini.

Sehingga, lanjut Rachmad, pemerintah jangan hanya melarang orang berkerumun dan keluar saja guna mengantisipasi penyebaran virus corona, tapi juga mencari persoalan mengapa masyarakat susah diajak social distancing atau pembatasan sosial.

"Pemerintah harusnya mendiagnosa akar persoalan dari masyarakat yang tidak mau social distancing itu apa. Kalau memang akarnya ekonomi dan logistik ya itu diprioritaskan sebagai solusinya," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini