nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pejabat Iran Sebut Presiden Trump Lebih Berbahaya daripada Virus Corona

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 06 April 2020 17:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 04 06 18 2195016 pejabat-iran-sebut-presiden-trump-lebih-berbahaya-daripada-virus-corona-34sr3zYcmE.jpg Presiden AS Donald Trump. (Foto/White House)

TEHERAN - Seorang pejabat Iran menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump lebih berbahaya daripada virus corona.

Laksamana Muda Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menuduh pemerintah AS menolak upaya Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu Iran selama pandemic virus corona yang menyebabkan Covid-19.

"Sanksi atas barang-barang kesehatan adalah tindakan ilegal dan tidak manusiawi dan merupakan simbol permusuhan terbuka Trump kepada rakyat Iran," tulis Shamkhani di Twitter, Minggu, 5 Maret.

"Trump lebih berbahaya daripada coronavirus," tambah Shamkhani.

Baca juga: Iran Sulit Berlakukan Lockdown karena Sanksi AS

Baca juga: Ketua DPR Iran Terpapar Virus Corona, Berikut Politikus dan Tokoh Dunia yang Terinfeksi Covid-19

Lebih dari 3.600 orang telah meninggal karena COVID-19 di Iran, sementara jumlah kasus yang dikonfirmasi di negara itu mencapai hampir 60.000, menurut Universitas Johns Hopkins.

Ingin bertemu

Trump pada Jumat mengatakan ia memiliki tanggung jawab moral untuk membantu Iran dalam perang melawan virus corona jika para pemimpin Iran meminta bantuan.

"Yah, mereka bahkan belum meminta kami untuk melakukan itu," kata Trump ketika ditanya apakah Amerika Serikat akan mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran sehubungan dengan wabah global.

"Jika mereka ingin bertemu, kami akan senang dan kami akan menyelesaikan semuanya," tambahnya.

Sejak 2018, pemerintahan Trump memberikan sanksi terhadap Iran setelah AS menarik diri dari perjanjian nuklir 2015.

Di bawah kesepakatan, antara Iran, AS, Uni Eropa, Cina, Prancis, Rusia, Inggris, dan Jerman pada 2015, Iran berjanji untuk mengurangi ambisi nuklirnya dengan imbalan bantuan sanksi.

Selama bulan lalu, ketika virus menyebar dengan cepat di Iran, AS berulang kali memperketat sanksi yang dirancang untuk mencekik ekspor minyak penting Teheran.

Pada 26 Maret, pemerintahan Trump memberlakukan sanksi baru terhadap 20 warga dan perusahaan Iran yang dituduh mendukung milisi Syiah di Irak, yang diyakini bertanggung jawab atas serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini