Indonesia Tak Hanya Lawan Covid-19, tapi Juga Infodemi

Rani Hardjanti, Okezone · Selasa 14 April 2020 21:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 14 65 2199232 indonesia-tak-hanya-lawan-covid-19-tapi-juga-infodemi-eBNQk8Ts33.jpg Ilustrasi virus corona. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Selain melawan pandemi Covid-19, masyarakat juga dihadapkan pada fenomena infodemi. Apa itu?

Menurut salah satu pengamat komunikasi bencana dari Universitas Brawijaya, infodemi adalah situasi persebaran informasi yang terus-menerus.

"Banyaknya informasi yang tersebar ini menyulitkan pengambilan keputusan karena adanya pembauran informasi yang benar dan yang tidak benar," jelasnya, seperti dikutip dari laman UB, Selasa (14/4/2020).

Menurut Dian, perilaku penggunaan media sosial dan mudahnya akses perangkat komunikasi juga merubah pola konsumsi informasi dan perilaku sosial masyarakat. Pandemi global covid-19 berakibat pada peningkatan aktivitas secara daring dan membuat penggunaan media sosial juga ikut meningkat tajam.

"Masyarakat tidak hanya menerima informasi, namun juga aktif menyebar informasi, baik yang terbukti secara ilmiah maupun tidak. Inilah yang mengakibatkan sulitnya seseorang dalam mengambil keputusan," imbuhnya.

Info grafis virus corona (Covid-19). (Foto: Okezone)

Dosen progam studi ilmu komunikasi ini juga menjelaskan bahwa infodemi juga berakibat pada kesehatan. Sebab, infodemi menyebar lebih cepat, bahkan dari persebaran covid-19.

"Terlebih lagi, terkadang infodemi juga melibatkan kepentingan-kepentingan tertentu dari pembuat berita atau informasi," terangnya.

Adanya ketidakseimbangan informasi yang dibutuhkan dan yang disajikan, menurut Dian, juga mendorong infodemi untuk tumbuh subur dalam kasus persebaran covid-19 di Indonesia.

Dia mencontohkan tentang pesan bahwa bawang putih dapat mengobati covid-19. Pendekatan pesan yang sifatnya antisains seperti ini sayangnya tidak hanya diproduksi oleh masyarakat awam, tetapi juga pemerintah.

Pernyataan dan respons yang diberikan oleh pemerintah pada awal konfirmasi kasus covid-19 juga cenderung mengabaikan pendekatan science communication. Hal ini menjadi tantangan bagi masyarakat untuk mengumpulkan pengetahuan tentang covid-19 secara mandiri.

"Tanpa kemampuan yang mumpuni untuk memahami pesan, masyarakat mengonsumsi informasi berdasarkan kesepakatan sosial mereka. Masyarakat memaknai aspek risiko dengan cara yang berbeda dan menciptakan standar pengetahuan berdasarkan informasi dan pengalam yang mereka peroleh. Dalam konteks inilah infodemi menyebar lebih cepat dari pandemi itu sendiri," terangnya.

Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah infodemi. Penguatan aspek kepercayaan terhadap pemerintah menjadi penting. Kepercayaan publik kepada pemerintah menjadi penting untuk menangani covid-19 dengan informasi yang terbuka dan aktual dari lembaga yang kredibel.

Kedua, konsisten dalam penyampaian informasi, baik verbal maupun non verbal, gesture yang konsisten menjadi penting untuk mencegah keraguan masyarakat. Ketiga, koordinasi antarpeneliti, akademisi, komunitas, industry, hingga figur publik juga peniting untuk penyampaian informasi yang bertanggung jawab. Sedangkan untuk masyarakat, dibutuhkan kendali dalam bijak bermedia sosial.

"Dengan mengonsumsi informasi secara sadar, diharapkan masyarakat tidak mudah menyebar informasi sebelum memahami dengan benar apa yang disampaikan. Tidak perlu menjadi yang pertama menerima dan menyebar informasi. Infodemi tidak hanya muncul saat wabah covid-19, namun akan terus ada di kasus krisis dan kebencanaan lain sebagai konsekuensi majunya teknologi komunikasi. Jadi dibutuhkan kebijaksanaan dan kemampuan memanfaatkan gawai dan informasi yang dimiliki," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini