AS Setop Bantuan, Eropa Siap bantu WHO

Agregasi VOA, · Sabtu 18 April 2020 15:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 18 18 2201255 as-setop-bantuan-eropa-siap-bantu-who-rDnb7O2uBd.jpg Lambang WHO. (Foto/Wikimedia Commons)

JENEWA - Organisasi kesehatan sedunia (World Health Organization/WHO) mengatakan telah mendapat banyak dukungan dari Eropa dan bagian dunia lain setelah Presiden Amerika Trump menghentikan sementara pendanaan bagi badan dunia itu.

Dr Hans Kluge, Direktur Regional WHO untuk Eropa, mengatakan badan PBB itu sangat terkesan oleh banyaknya dukungan dari negara-negara Eropa dan juga dari banyak bagian dunia lainnya.

Trump hari Selasa (14/4) memerintahkan penghentian sementara pendanaan WHO sampai diadakan penyelidikan atas "salah urus" oleh badan dunia itu dalam menanggapi perebakan virus korona.

Foto/White House

Menurut Kluge, sejumlah janji bantuan keuangan telah masuk dan WHO sedang mengkaji keadaan keuangannya. Ia menambahkan, WHO lebih memusatkan perhatian untuk menyelamatkan nyawa dalam pandemi virus korona yang sedang berlangsung.

Pejabat PBB itu mengatakan walaupun ada tanda-tanda penurunan perebakan di Spanyol, Italia, Jerman, Perancis dan Swiss, jumlah orang yang terinfeksi di kawasan itu terus naik. Jumlahnyanya naik dua kali lipat, menjadi hampir satu juta orang dalam 10 hari terakhir.

Yayasan yang didanai salah satu orang terkaya di dunia, Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF), mengumumkan tambahan sumbangan sebesar USD150 juta untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sumbangan itu diumumkan berselang sehari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penghentian pendanaan dari pemerintahannya untuk WHO.

Melinda Gates yang memimpin yayasan itu bersama suaminya, miliarder pendiri Microsoft Bill Gates, mengatakan tambahan sumbangan tersebut ditujukan untuk membantu mempercepat pengembangan perawatan, vaksin dan langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk mengatasi wabah virus corona (COVID-19). Dia juga mengecam keputusan Trump yang menghentikan pendanaan untuk WHO, menyebut langkah itu “sama sekali tak masuk akal”.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini