Kenalkan, Airgency Ventilator Portabel Karya Anak Bangsa

Rani Hardjanti, Okezone · Senin 27 April 2020 15:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 27 65 2205571 kenalkan-airgency-ventilator-portabel-karya-anak-bangsa-UumZq503Ed.jpg Airgency, ventilator portabel karya

JAKARTA - Setelah Ventilator Portabel Vent-I lolos uji Kemenkes dan siap produksi, Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menggagas ventilator portabel. Kali ini tim dosen ITB mengembangkan Airgency: Emergency Automatic Bag-Ventilator.

Alat itu merupakan sebuah ventilator portabel untuk menangani pasien Covid-19 dengan menggunakan teknologi ambu-bag (kantong udara). Airgency merupakan inovasi yang dikembangkan sebagai penanganan yang ditujukan kepada pasien Covid-19 yang telah berada di tahap tiga atau tahap paling kritis di mana pasien telah mengalami disfungsi paru-paru yang menyebabkan pasien tidak dapat bernapas dan membutuhkan alat pernapasan bantu otomatis.

Teknologi ambu-bag dipilih sebab lebih murah dan dapat diproduksi dalam jumlah massal. Apabila dibandingkan dengan ventilator lain yang memiliki harga mencapai ratusan juta, ventilator dengan ambu-bag akan memiliki harga jutaan rupiah saja.

Baca Juga : Lulus Uji Kemenkes, Ventilator Portabel Karya Anak Bangsa Ini Siap Diproduksi

Tim Dosen ITB yang mengembangkan alat tersebut di antaranya, Christian Reyner M.T., Dr. Khairul Ummah, Dr. Yazdi I. Jenie, dan Dr. Djarot Widagdo dari FTMD ITB, serta Muhammad Ihsan dari FSRD ITB. Dalam proses perancangannya, tim bekerja sama dengan PT. Beta (Bentara Tabang Nusantara).

(Foto Dok : ITB)

Sebelum melakukan perancangan Airgency, Tim Dosen ITB terlebih dahulu berdiskusi dengan tim dokter dari Universitas Padjadjaran dan Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Baca Juga : ITB Prediksi Puncak Penyebaran Corona Akhir Maret, Berakhir Pertengahan April

Disampaikan Dr. Yazdi, teknologi ventilator dengan ambu-bag sebenarnya telah digunakan di RSHS namun dalam aplikasinya petugas medis harus menekan ambu-bag terus menerus untuk membantu pernapasan pasien, yang dalam hal ini dapat menyebabkan kelelahan pada petugas medis dan risiko terpapar Covid-19 menjadi lebih tinggi.

Oleh karena itu fokus pada alat Airgency adalah membuat teknologi ventilator dengan ambu-bag yang otomatis dalam pengaplikasiannya dan dapat ditujukan bagi pasien yang harus berpindah ruangan dan tetap menggunakan ventilator.

Cara kerja Airgency dilakukan dengan menekan ambu-bag di awal lalu mengatur kinerja Airgency. Terdapat tiga pengaturan utama Airgency antara lain pengaturan volume tidal, pengaturan rasio inhale, dan exhale, dan pengaturan tekanan.

Potret Kampus ITB yang Ditinggal Mahasiswa Belajar di Rumah

Selain itu dalam Airgency terdapat fitur keselamatan untuk mendeteksi kegagalan mekanik yang nantinya akan menampilkan trigger warning apabila terjadi kegagalan. Airgency juga dilengkapi dengan fitur backup battery sehingga apabila terjadi hubungan pendek arus listrik atau ada kerusakan sumber daya maka sumber daya Airgency akan langsung tergantikan dengan sumber daya baterai. 

Baca Juga : Lulus Uji Kemenkes, Ventilator Portabel Karya Anak Bangsa Ini Siap Diproduksi

Airgency juga dilengkapi dengan sistem sensor tekanan untuk mengetahui tekanan yang masuk ke paru-paru manusia dan ada fitur deteksi pernapasan. Terdapat dua pilihan mode pada Airgency yaitu mode normal by default yang artinya Airgency akan memiliki cara kerja seperti automatic resusitator dan Assisted Breathing Mode untuk membantu pasien yang mengalami kesulitan bernapas dengan adanya pengaturan penggunaan saat pasien ingin bernapas dengan bantuan Airgency.

Lebih lanjut, Christian Reyner menambahkan, proses perancangan desain Airgency dilakukan dalam kurun waktu 1-2 minggu sampai pada tahap pembuatan purwarupa dengan melakukan iterasi sebanyak 10 - 20 kali hingga didapatkan purwarupa Airgency yang paling tepat. Selama perancangan desain alat, tim dosen ITB juga melakukan koordinasi dengan tim dari RSHS. Purwarupa dari Airgency kemudian akan diuji coba dibantu oleh LPIK.

Baca Juga : ITB Prediksi Puncak Penyebaran Corona Akhir Maret, Berakhir Pertengahan April

Saat ini, purwarupa Airgency dalam tahap sertifikasi oleh BFPK (Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan) Kemenkes RI, tim dokter Universitas Padjadjaran, dan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung selama 1-2 minggu. “Setelah lolos sertifikasi, selanjutnya akan dilakukan produksi sebanyak 10 - 20 Airgency yang siap digunakan. Untuk pembuatan Airgency dengan skala cukup kecil akan dibutuhkan satu minggu,” ujarnya, seperti dikutip dari laman ITB, Senin (27/4/2020).

Rencana ke depan Airgency setelah lolos uji sertifikasi, Airgency akan diuji klinis di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung kemudian Airgency akan mulai diproduksi untuk digunakan di rumah sakit di Bandung dan sekitarnya. Tidak menutup kemungkinan pula Airgency akan diproduksi ke daerah yang mengalami kekurangan alat medis dalam penanganan kasus Covid-19.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini