Ventilator Karya Mahasiswa Universitas Gunadarma Efektif Bantu Pasien Kritis COVID-19, Ini Penjelasannya

Wilda Fajriah, Okezone · Rabu 29 April 2020 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 28 65 2206042 ventilator-karya-mahasiswa-universitas-gunadarma-efektif-bantu-pasien-kritis-covid-19-ini-penjelasannya-j0VxNWzq6e.jpg Universitas Gunadarma (Foto: Ist)

DEPOK - Universitas Gunadharma berhasil menciptakan alat pernapasan ventilator yang ditujukan untuk menangani pasien COVID-19. Tiga falkutas yang terlibat yakni, Falkutas Teknki Industri, Falkutas Kedokteran dan Falkutas Ilmu Komputer.

Ventilator sendiri menjadi alat yang sangat dibutuhkan saat pandemi corona di dunia. Alat ini diklaim membantu banyak pasien corona menghadapi penyakitnya.

"Artinya kita mencoba membantu program pemerintah dalam mengatasi hal ini yakni dalam bentuk untuk membuat beberapa riset pengembangan yang khususnya membantu beberapa saudara-saudara kita yang mungkin saat ini membutuhkan perangkat-perangkat seperti misalnya alat bantu pernafasan," papar Prof Adang Suhendar selaku Dekan Falkutas Teknik Informasi Universitas Gunadarma yang juga ikut terlibat dalam pembuatan ventilator ini.

Insinyur Yohanes Kurnia, dibantu dengan pfofesor Adang Suhendra dan dokter Bhakti Gunawan dari Universitas Gunadarma berhasil membuat ventilator yang siap diproduksi secara masal untuk bangsa dan negara. Mereka berhasil menyelesaikan design sistem knockdown dan low cost ventilator dengan material yang hampir semuanya dari dalam negeri agar bisa cepat diproduksi dengan cepat, singkat dan efisien semurah mungkin.

"Jadi untuk secara medis, pola kerjanya adalah dibawah konsultasi antara pembuat yaitu kami dari tim Falkutas kedokteran Gunadarma, kita melihat mekanisme kerja, fungsi plus monitoring dari semua alat ini kita harapkan nanti akan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan pada saat dipakai," kata Adang.

Dengan semakin mahal dan kurangnya ketersediaan ventilator di berbagai rumah sakit di Indonesia, Adang berharap dengan dibuatnya produk karya anak bangsa ini akan turut membantu pemerintah dalam mengatasi pendemi yang sudah berlangsung cukup lama ini.

"Tidak hanya pembuatan ventilator, kedepannya kita juga akan buat disinfektan kemudian sehingga kita bisa berpartisipasi untuk membantu masyarakat tersebut dan juga pemerintah yang saat ini kan cukup yang dimana pasien terus bertambah karena dampak COVID-19 ini," paparnya

Lebih lanjut Adang menjelaskan tentang bagaimana mekanisme dan cara kerja dari alat ventilator karya anak bangsa ini. Dikatakannya ada perhitungan-perhitungan atau parameter yang dikehendaki alat yang dipakai mulai dari otomatisasi untuk adjustment dari respirator rewrite frekuensi pernapasan sampai kemudian untuk menentukan volume.

"Ketika dipakai mulai dari otomatisasi untuk udjustment dari respirator rewite frekuensi pernapasan sampai kemudian nanti untuk penentuan volume yang akan dimasukan ke dalam paru-paru pasien, ini semua ya bisa terkontrol secara otomatis plus ditambah dengan monitoringnya," lanjutnya.

Selain ventilator, tim ini juga mengembangkan perangkat PAPR (Powered Air Purifying Respirator) sebagai pelengkap APD yang memodifikasi dari perangkat masker selam yang dilengkapi dengan saluran inspirasi dan ekspirasi dengan sensor pendeteksi tekanan inspirasi dan eksipirasi yang bertujuan memberikan pernafasan yang disesuaikan dengan ritme pernafasan pemakainya dengan aman dari virus dan bakteri.

Alat ini sangat diperlukan oleh para tenaga medis dirumah-sakit di Indonesia dengan kelengkapan alat mini komunikasi serta minum tanpa membuka master tersebut.

Dengan kondisi saat ini, Adang pun menjelaskan poin-poin penting yang harus dimiliki dari sebuah ventilator untuk dapat digunakan secara efektif khususnya untuk pasien yang mungkin dalam kondisi sangat kritis sekalipun.

"Pasti yang pertama dia sifatnya mobile, kemudian bisa dipakai dalam kondisi yang memang nanti sesuai dengan kondisi pasien. Artinya bisa kita adjust karena setiap pasien yang datang ke kita dengan kelainan nafas, apakah itu sulit nafas sampai dengan gagal nafas itu kondisinya berbeda secara patologi. Sehingga alat ini harus bisa meng-adjust apakah itu semi manual atau secara otomatis sehingga menyesuaikan dengan kebutuhan pasien," tuturnya.

Insinyur Yohanes Kurnia yang juga turut membantu dalam pembuatan Ventilator juga mengatakan jika produk ini merupakan produk lokal buatan anak bangsa, dimana sekitar 80 persen adalah TKDN-nya Indonesia kemudian sisanya sekitar 20 persen di import dari luar negeri.

"Jadi kami ini semua 80 persen adalah TKDNnya indonesia, sisanya 20 persen kita impor. Tapi memang impornya juga yang ada dipasaran sehingga sangat mudah sekali untuk didapatkan," jelasnya.

Yohanes melanjutkan penjelasan singkatnya adalah alat ventilator ini dibuat secara konsuksi dengan menggunakan akrilik dan 3D printed yang dimana semuanya knockdown. Sehingga dipastikan tidak ada sistem lem sebab hanya menggunakan scrup, mur dan baut.

"Kemudian 3D printednya sendiri sangat aman karena menggunakan PLA yang dibuat dari jagung sintesis, kemudian sistem motorizenya itu kita menggunakan motor yang bisa diatur sampai dengan 1,8 derajat per stepnya sehingga sangat mudah bagi kami bisa up and down. Sebelah kiri tekan yang sebelah kanan tekan. Dan diharapkan dalam 3/4 detik atau 1/2 detik bisa tercover perbandingan rationya," ujarnya.

Yohanes pun menjelaskan perbedaan antara ventilator yang dibuat oleh karya anak bangsa ini dengan ventilator yang ada di rumah sakit. Ia mengatakan, jika sudah jelas perbedaannya terlatak pada low cost, bisa dibongkar pasang dan sangat hemat.

"Perbedaannya kami mungkin labih ke portabel , jadi bisa dibawa kemana-mana dan perbedaan dengan ventilator pada umumnya adalah mungkin terletak ada small size-nya, kami sudah bisa membuat simulasi ventilator pada umumnya," jelasnya lagi.

Saat ini Universitas Gunadarma sudah membuat 5 prototipe yang terdiri dari 1 sampai 5 prototipe. Namun dikatakan Yohanes prototipe ke 5 yang paling efisien sehingga 1-4 kurang yang dibuat tidak akan diteruskan.

"Kemudian kami akan lakukan pengujian pada pasien karena sampai saat ini kita sudah sampai kepada tahap bagaimana menyinkronkan dengan posisi tes selang kemudian nanti akan dicobakan kepada pasien," paparnya.

Pengembangan alat kesehatan ini mendapat dukungan penuh dari pimpinan Universitas Gunadarma. Produk yang dihasilkan ini menjadi karya anak bangsa Indonesia, yang diharapkan ke depan bisa berkontribusi membantu menyediakan alat kesehatan, yang sekaligus menunjukkan sinergitas antara pihak akademisi dan industri.

“Alat PAPR ini sangat diperlukan oleh para tenaga medis di rumah sakit di Indonesia dengan kelengkapan alat mini komunikasi serta minum tanpa membuka master tersebut dengan tetap terlindungi dari virus dan bakteri,” tekan Yohanes Kurnia.

Biaya yang dikeluarkan dalam satu produksi ventilator pun bisa dikatakan murah karena untuk satu biaya produksi atau biaya modalnya lebih kurang dari 10 persen biaya ventilator yang asli. Selain itu, pemasangan ventilator ini pun sangat mudah dan cepat.

"Sangat mudah, karena kita memasang furniture atau perabotan jadi kami memang sengaja ingin membuat bagaimana kalo memang dibawa ke tempat yang tidak jauh, orang-orang yang disana dengan instruksi yang cukup memadai bisa memasangnya dengan cepat," katanya.

Meski kedepannya ventilator ini akan diproduksi, namun hingga kini Yohanes dan tim belum menawarkan alat bantuan pernapasan ini kepada pihak kementrian kesehatan.

"Saat ini kami ajukan dan tawarkan karena belum sempat. Saat ini kami masih fokus keliling rumah sakit menemui dokter untuk mendapatkan saran yang dibutuhkan mereka," tutupnya. (cm)

(fmi)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini