nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dosen dan Mahasiswa Bandung Kolaborasi Buat Robot Pembasmi Virus

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 11 Mei 2020 16:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 11 65 2212422 dosen-dan-mahasiswa-bandung-kolaborasi-buat-robot-pembasmi-virus-PrT2SDflkd.jpg Robot pembasmi virus buatan mahasiswa dan dosen di Bandung. (Foto: BBC News Indonesia)

AUTONOMOUS UVC Mobile Robot (AUMR) dirancang oleh sejumlah dosen dan mahasiswa Telkom University di Bandung, Jawa Barat. Robot ini memiliki kemampuan membasmi kuman. Robot ini berperan sebagai pengganti penyemprot disinfektan untuk memberantas persebaran virus.

Mengutip dari BBC News, Senin (11/5/2020), AUMR memiliki senjata sinar ultraviolet tipe C atau UVC yang diharapkan bisa membunuh segala virus, termasuk penyebab covid-19. Sinar UVC tersebut terpancar dari enam lampu yang terpasang di bodi robot.

Baca juga: Guru Besar UB Sebut PSBB Membuat Langit Kembali Berwarna Biru 

Ketika AUMR sedang bekerja, tidak boleh ada manusia di sekitarnya. Pasalnya, manusia yang terpapar sinar UVC akan mengalami kerusakan kulit dan mata. Tetapi, kain kain bisa dijadikan pelindung yang aman, jika sterilisasi dilakukan di ruangan yang terdapat manusia.

Bagaimanapun, belum ada penelitian yang valid mengenai efektivitas sinar UVC dalam membunuh SARS-Cov2, virus penyebab penyakit covid-19.

LIPI yang dilibatkan dalam proyek ini menguji efektivitas sinar UV tipe C dalam membunuh virus SARS-Cov1 atau virus penyebab penyakit SARS yang masih satu keluarga dengan SARS-Cov2.

AUMR sendiri mulai dibuat pada akhir Maret 2020. Sejak awal proses riset hingga prototipe pertama membutuhkan waktu sekira tiga minggu.

Baca juga: Kemenristek/BRIN Pilih 17 Usulan Terbaik Terkait Ide Penanganan Covid-19 

Robot ini, menurut perancangnya, 80 persen dibuat dari komponen dalam negeri. AUMR ditenagai baterai aki yang bertahan selama empat hingga enam jam.

Proses riset dan pengembangannya menghabiskan dana sebesar Rp250 juta. Namun rencananya, AUMR bakal dijual di kisaran Rp80 sampai 100 juta.

Dalam proses produksi secara massal akan dikelola oleh mahasiswa yang telah mendirikan sebuah perusahaan startup.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini