Militan Bersenjata Serang Klinik Bersalin di Afghanistan, 16 Tewas Termasuk 2 Bayi

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 13 Mei 2020 10:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 13 18 2213297 militan-bersenjata-serang-klinik-bersalin-di-afghanistan-16-tewas-termasuk-2-bayi-wNmcTrSmrY.jpg Ilustrasi.

KABUL - Sejumlah pria bersenjata menyamar ketika polisi menyerang sebuah rumah sakit Ibu Kota Afghanistan, Kabul pada Selasa (12/5/2020), menewaskan 16 orang termasuk dua bayi yang baru lahir dari klinik bersalin yang dikelola oleh organisasi kemanusiaan internasional Doctors Without Borders.

Sampai berita ini diturunkan oleh Reuters, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kelompok militan Taliban yang telah menghentikan serangan ke kota-kota di Afghanistan berdasarkan kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS), menyatakan tidak terlibat dalam insiden itu.

Sementara itu dalam serangan terpisah di hari yang sama, seorang pengebom bunuh diri menyerang pemakaman seorang komandan polisi, yang dihadiri oleh pejabat pemerintah dan anggota parlemen, di provinsi timur Nangahar. Serangan itu menewaskan sedikitnya 24 orang dan melukai 68 lainnya. Pihak berwenang mengatakan bahwa jumlah korban dapat meningkat.

Kelompok intelijen SITE melaporkan, Negara Islam Khorasan, kelompok militan Afganistan yang berafiliasi dengan Negara Islam (IS), mengaku bertanggung jawab atas pengeboman Nangahar.

Reuters tidak dapat segera memverifikasi laporan oleh SITE, yang melacak aktivitas kelompok militan online.

Kelompok militan IS beroperasi di Nangahar dan telah melakukan sejumlah serangan besar-besaran di Kabul dalam beberapa bulan terakhir. Pada Senin (11/5/2020) pasukan keamanan menangkap pemimpin regionalnya di ibu kota.

Foto-foto Kementerian Dalam Negeri menunjukkan dua anak kecil terbaring tak bernyawa di dalam rumah sakit. Salah satu foto memperlihatkan seorang wanita yang terbunuh terbaring di tanah masih memegang erat-erat bayinya.

Presiden Ashraf Ghani mengutuk serangan itu dan mengatakan dia telah memerintahkan militer untuk beralih ke mode ofensif daripada sikap defensif yang telah diadopsi ketika Amerika Serikat menarik pasukan dan mencoba untuk menengahi pembicaraan.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini